Ancaman Hama Wereng Coklat Terhadap Produksi Padi di Indonesia
Sumber Foto: UGM
Sentra Liputan

Ancaman Hama Wereng Coklat Terhadap Produksi Padi di Indonesia

Hama Wereng Batang Coklat (WBC) semakin menjadi ancaman serius bagi produksi padi di Indonesia. Dalam dua tahun terakhir, populasi hama ini berkembang dengan cepat dan menyebabkan kerusakan di berbagai daerah sentra padi, baik di Pulau Jawa maupun di pulau lainnya. Serangan hama ini mengalami peningkatan yang signifikan, terutama pada musim hujan tahun 2016.

Dr. Ir. Sri Nuryani Hidayah Utami, MP., M.Sc, Wakil Dekan II Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan bahwa meskipun terdapat kecenderungan penurunan dalam populasi dan luas serangan WBC, pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti prediksi iklim dan penggunaan pestisida yang tidak tepat dapat memicu ledakan populasi hama ini di masa mendatang.

Dalam sebuah forum diskusi yang berlangsung di Fakultas Pertanian UGM pada 13 Februari lalu, Sri Nuryani menyatakan pentingnya penerapan prinsip Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) untuk mengurangi risiko serangan WBC. Forum tersebut dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, serta para ahli dan kepala balai proteksi tanaman dari berbagai provinsi.

“Kondisi iklim yang mendukung perkembangan WBC perlu diantisipasi dengan langkah-langkah pencegahan yang tepat,” ujar Sri Nuryani. Beberapa langkah pencegahan telah dirumuskan untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Untuk jangka pendek, pemantauan daerah yang telah dilakukan pengendalian hama dengan pestisida menjadi salah satu tindakan yang diusulkan.

Menjelang musim kemarau 2017, petani disarankan untuk menanam varietas padi yang tahan terhadap WBC dan melakukan pergiliran varietas untuk mencegah munculnya biotipe baru. Selain itu, penting bagi petani untuk melanjutkan penanaman refugia di daerah endemis dan melakukan pengamatan yang intensif untuk mendeteksi adanya populasi WBC secara dini.

Untuk jangka panjang, perbaikan layanan ekosistem secara berkelanjutan menjadi salah satu tujuan utama. Ini mencakup peningkatan pemahaman petugas, petani, dan peneliti mengenai masalah WBC dan dampaknya sebagai vektor virus. Selain itu, evaluasi insektisida yang terdaftar dan penggunaan parasitoid spesifik untuk WBC juga perlu dilakukan secara terprogram.

Melalui langkah-langkah ini, diharapkan risiko terjadinya ledakan populasi WBC dapat diminimalkan, sehingga produksi padi di Indonesia dapat terjaga.