Anies Baswedan: Integritas sebagai Pilar Pendidikan Sejak Dini
Sumber Foto: KBA News
Nasional

Anies Baswedan: Integritas sebagai Pilar Pendidikan Sejak Dini

Sentra Media - Tokoh seperti Mohammad Hatta menjadi contoh produk pendidikan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral. #kbanews

YOGYAKARTA | KBA – Safari Iman Ramadhan 1447 H kembali menghidupkan tradisi dialog pemikiran di lingkungan kampus. Pada kegiatan yang digelar di Masjid Ulil Albab UII, Anies Rasyid Baswedan membahas isu strategis tentang integritas dan pendidikan, dua aspek yang menurutnya tidak bisa dipisahkan jika Indonesia ingin memperbaiki kualitas manusia secara berkelanjutan.

Anies menjelaskan bahwa generasi pendiri republik adalah produk pendidikan yang menekankan keteguhan moral. Meski berada di bawah sistem kolonial, pendidikan pada masa itu mengembangkan karakter kuat yang menghargai integritas, tanggung jawab, dan kesederhanaan.

“Tokoh seperti Mohammad Hatta menjadi contoh produk pendidikan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral,” katanya dalam ceramah yang disiarkan kanal YouTube UII seperti dikutip KBA News, Jumat, 20 Februari 2026.

Menurut Anies, Indonesia hari ini menghadapi tantangan berbeda: perubahan teknologi yang cepat membuat nilai mudah bergeser, sementara pendidikan sering kali hanya fokus pada aspek kognitif. Padahal, pendidikan karakter harus ditanamkan sejak usia paling dini.

Mengutip riset James Heckman, Anies menegaskan bahwa usia 0–5 tahun adalah fase paling penting dalam pembentukan manusia. “Nilai moral, disiplin diri, dan kebiasaan baik harus mulai dibangun pada masa itu,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa kampus harus menjadi ruang lanjutan pembentukan karakter. Mahasiswa tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik. Mereka perlu menginternalisasi nilai-nilai integritas dalam perilaku sehari-hari, sikap di organisasi, dan cara mereka menyikapi proses belajar.

“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” tegas Anies, menekankan bahwa karakter tetap bisa dibentuk pada jenjang pendidikan tinggi.

Anies kemudian mengungkapkan realitas integritas akademik yang pernah ia tangani ketika menjabat Menteri Pendidikan. Ujian nasional pada saat itu penuh kecurangan: soal bocor, siswa bekerja sama, hingga pola jawaban yang seragam—baik benar maupun salah—di satu kelas.

Untuk itu, ujian nasional tetap dilaksanakan tetapi tidak dijadikan syarat kelulusan agar tekanan hilang dan kecurangan menurun. Pemerintah juga memperkenalkan indeks integritas, yang dihitung dari pola kesamaan jawaban sebagai indikator objektif tingkat kejujuran sekolah.

Hasilnya menunjukkan banyak sekolah memiliki tingkat kesamaan jawaban ekstrem, bahkan ada yang mencapai 100 persen. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kecurangan bukan dilakukan individu, tetapi melibatkan sistem sekolah. Menurut Anies, hal ini menunjukkan bahwa integritas harus menjadi kebijakan pendidikan yang sangat serius.

Safari Iman Ramadhan menjadi ruang penting untuk kembali menegaskan misi pendidikan nasional: membentuk manusia yang cerdas sekaligus berkarakter. Generasi muda diajak untuk menumbuhkan integritas sebagai kompas moral dalam menghadapi perubahan zaman. Di tangan generasi berintegritaslah masa depan republik dapat dijaga dan diarahkan menuju kemajuan. (kba)