Sentra Media - Yang namanya nyontek di UN itu di mana-mana. Soalnya bocor, di ruang kelas orang kerja sama. #kbanews
YOGYAKARTA | KBA – Tokoh nasional Anies Baswedan dalam acara Safari Ramadan di di kampus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, kembali mengulas pengalamannya saat menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) pada 2014–2016. Anies membagikan kisah di balik keputusan penting terkait pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang kala itu masih menjadi momok bagi banyak siswa.
Anies membuka cerita dengan mengingat kondisi penyelenggaraan UN pada tahun-tahun sebelum 2015. Menurutnya, persoalan utama bukan pada ujian itu sendiri, tetapi pada budaya kecurangan yang merajalela. “Yang namanya nyontek di UN itu di mana-mana. Soalnya bocor, di ruang kelas orang kerja sama,” ujar Anies dalam video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya dilihat KBA News, Senin, 2 Maret 2026.
Ia menilai bahwa pelaksanaan UN saat itu jauh dari nilai integritas yang selama ini ia perjuangkan sejak menjadi akademisi hingga rektor, sebelum akhirnya ditunjuk sebagai Mendikbud.
Keputusan Penting: UN Tidak Lagi Menjadi Syarat Kelulusan
Saat menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2015, Anies mengambil langkah besar: UN tetap dilaksanakan, tetapi tidak lagi menjadi syarat kelulusan siswa.
Menurutnya, rasa takut terhadap UN muncul bukan karena ujian itu sendiri, melainkan karena dijadikan penentu kelulusan. Perubahan kebijakan tersebut dilakukan untuk mengembalikan fungsi UN menjadi alat evaluasi, bukan “penentu nasib”.
“Ujian nasional tetap dilaksanakan, tapi tidak sebagai syarat kelulusan. UN dijadikan feedback untuk mengukur kinerja akademik di beberapa mata pelajaran,” jelas Anies.
Indeks Integritas: Terobosan Baru dalam Penilaian
Tak berhenti pada penghapusan UN sebagai syarat kelulusan, Anies memperkenalkan sistem Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN).
Sistem ini digunakan untuk mengukur tingkat kejujuran pelaksanaan UN di setiap sekolah.
Hasilnya siswa menerima nilai akademik (nilai UN) dan ekolah menerima indeks integritas, sebagai cerminan seberapa jujur ujian dilaksanakan. “Ujian itu hasilnya dua: anak-anak terima nilai N, sekolah terima indeks integritas.”
Anies menyebut langkah ini sebagai upaya menegakkan integritas dalam dunia pendidikan, sekaligus mengurangi praktik kecurangan yang sudah dianggap lumrah.
Upaya Mengembalikan Marwah Pendidikan
Keputusan tersebut menjadi salah satu tonggak perubahan besar dalam sejarah UN di Indonesia. Melalui indeks integritas, pemerintah mendorong sekolah untuk memperbaiki ekosistem pembelajaran, bukan sekadar mengejar nilai tinggi.
Langkah yang diambil Anies pada 2015 itu hingga kini masih menjadi bagian penting dalam diskusi mengenai reformasi pendidikan nasional. (kba)