Sentra Media - Lonjakan ongkos logistik global akibat konflik geopolitik mulai menekan daya saing ekspor Indonesia, termasuk Bali yang berpotensi menjadi hub logistik internasional untuk kawasan Indonesia Timur.
Ketua Umum Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Provinsi Bali, Anak Agung Bagus Bayu Joni Saputra, menegaskan bahwa situasi global saat ini merupakan peringatan bagi sektor logistik nasional. Kenaikan biaya logistik yang terjadi akibat gejolak geopolitik mengakibatkan dampak langsung terhadap distribusi barang dan harga.
Konflik di Timur Tengah telah mengubah jalur pelayaran internasional, memaksa kapal untuk mengambil rute lebih panjang guna menghindari wilayah berisiko. Hal ini menyebabkan peningkatan waktu tempuh dan konsumsi bahan bakar, yang pada gilirannya mengakibatkan lonjakan biaya operasional logistik. Dampak kenaikan ongkos logistik ini tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga memengaruhi harga kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Gung Bayu Joni menekankan bahwa kenaikan biaya logistik menggerus daya saing produk Indonesia di pasar internasional. Jika biaya meningkat namun harga jual tetap, margin keuntungan eksportir berkurang, sehingga mereka dapat kalah bersaing dengan negara lain yang memiliki sistem logistik lebih efisien.
Dalam menghadapi tekanan ini, Bali memiliki peluang untuk menjadi hub logistik internasional. Dengan posisi strategis dan potensi komoditas unggulan, terutama di sektor perikanan dan kelautan, Bali dapat berperan lebih besar dalam rantai distribusi nasional dan global. Untuk mewujudkan potensi tersebut, perlu penguatan infrastruktur, digitalisasi distribusi, dan diversifikasi pasar ekspor. Gung Bayu Joni menekankan pentingnya eksekusi dalam pembangunan sistem logistik yang efisien dan terintegrasi di Bali.