Sentra Media - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mengumumkan kebijakan selektif dalam penyaluran kredit kepada korporasi besar dengan imbal hasil rendah akibat meningkatnya biaya dana. Langkah ini diambil di tengah kondisi likuiditas yang ketat.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menyatakan bahwa perusahaan akan lebih berhati-hati dalam memberikan kredit kepada korporasi besar yang memiliki yield rendah. Dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, Nixon menjelaskan bahwa pihaknya akan menghapus korporasi tersebut dari pipeline kredit.
Nixon menegaskan bahwa meskipun penyaluran kredit untuk program pemerintah, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), tetap menjadi prioritas, BTN tidak dapat menawarkan kredit berbunga rendah kepada debitur karena kenaikan biaya dana. Ia mencatat bahwa kenaikan suku bunga acuan dan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia telah menyerap likuiditas perbankan, yang mengakibatkan peningkatan biaya penghimpunan dana.
BTN mempertahankan target pertumbuhan kredit tahun ini di kisaran 8-10 persen tanpa merevisi Rencana Bisnis Bank (RBB), meskipun melakukan penyesuaian indikator kinerja internal. Per akhir Juni 2026, BTN mencatat pertumbuhan kredit konsolidasi sebesar 11,2 persen, dengan sektor kredit perumahan dan non-perumahan menunjukkan kenaikan yang signifikan. Kualitas aset BTN juga terjaga dengan rasio non-performing loan (NPL) yang menurun menjadi 2,99 persen, sementara cost of fund berada di level 3,01 persen.