Dampak Layanan BNPL Terhadap Perilaku Keuangan Generasi Z
Sumber Foto: kompasiana.com
Lifestyle

Dampak Layanan BNPL Terhadap Perilaku Keuangan Generasi Z

Kemajuan teknologi informasi telah membawa transformasi besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam sektor ekonomi dan keuangan yang kini mengalami digitalisasi secara masif. Perkembangan teknologi ini tidak hanya memengaruhi cara individu mengakses informasi, tetapi juga mengubah pola konsumsi dan transaksi keuangan secara fundamental. Salah satu bentuk nyata dari inovasi tersebut adalah kemunculan sistem pembayaran digital yang semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat modern. Dalam konteks ini, layanan Buy Now Pay Later (BNPL) menjadi salah satu terobosan signifikan dalam dunia keuangan digital. BNPL memungkinkan konsumen untuk melakukan pembelian barang atau jasa secara langsung dan menunda pembayarannya di kemudian hari, baik dalam bentuk satu kali pelunasan maupun sistem cicilan.

Layanan BNPL umumnya terintegrasi dalam berbagai platform e-commerce ternama, seperti Shopee yang menawarkan fitur SPayLater. Keberadaan layanan ini telah mengubah cara masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mengambil keputusan pembelian. Kemudahan akses layanan ini—dimulai dari proses registrasi yang cepat hanya dengan menggunakan kartu identitas, tanpa memerlukan agunan seperti halnya kartu kredit—menjadi daya tarik tersendiri. Tidak hanya itu, promosi agresif seperti diskon, cicilan tanpa bunga, dan cashback juga semakin meningkatkan minat konsumen untuk menggunakan BNPL. Inilah yang menjadikan layanan ini semakin populer, khususnya di kalangan masyarakat urban dan generasi yang terbiasa berinteraksi dengan teknologi digital.

Di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan, tersembunyi risiko keuangan yang patut menjadi perhatian serius. Banyak dari anggota Generasi Z yang belum memiliki penghasilan tetap, namun telah aktif menggunakan layanan BNPL untuk memenuhi kebutuhan konsumtif maupun gaya hidup. Hal ini menjadi persoalan ketika mereka mulai mengalami kesulitan dalam membayar tagihan bulanan yang terakumulasi. Restike et al. (2024) menunjukkan bahwa meskipun sebagian dari Gen Z cukup memahami cara kerja teknologi, banyak di antara mereka yang kesulitan mengelola utang jangka pendek akibat kurangnya perencanaan keuangan yang matang. Situasi ini semakin diperparah oleh rendahnya tingkat literasi keuangan di kalangan generasi muda.

Tuntutan untuk dapat mengelola keuangan pribadi dan perilaku konsumsi secara bersamaan menjadi salah satu bentuk keterampilan hidup yang krusial bagi Generasi Z. Dalam konteks ini, kedewasaan dalam pengambilan keputusan tidak hanya merujuk pada usia kronologis, tetapi pada kemampuan kognitif dan emosional untuk membedakan antara keinginan dan kebutuhan, serta menunda kepuasan demi tujuan keuangan jangka panjang. Oleh karena itu, peningkatan literasi keuangan dan penguatan keterampilan manajemen pribadi harus menjadi bagian dari agenda pendidikan dan kebijakan publik yang ingin membentuk generasi muda yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga cakap secara finansial dan bijak dalam bertindak sebagai konsumen.

Fenomena gaya hidup hedonistik yang cenderung berkembang di kalangan Gen Z juga berkontribusi terhadap pola konsumsi yang tinggi. Menurut penelitian oleh Shanti et al. (2018), gaya hidup mewah atau berorientasi pada kenikmatan sesaat dapat mendorong peningkatan perilaku konsumtif yang berisiko, terutama jika tidak dibarengi dengan kemampuan mengelola keuangan yang memadai. Dalam konteks ini, layanan BNPL kerap digunakan sebagai alat untuk memenuhi gaya hidup yang tidak sesuai dengan kemampuan finansial sebenarnya. Promosi agresif seperti diskon eksklusif, gratis ongkir, atau penawaran terbatas yang sering ditampilkan dalam platform e-commerce semakin mendorong Gen Z untuk melakukan transaksi tanpa pertimbangan mendalam (Gita & Ananda, 2025).

Penulis: Adinda Ayunisa

Mahasiswa Prodi S1 Akuntansi FEB ULM