Dampak Perang AS-Israel-Iran terhadap Jalur Migrasi Burung
Sentra Media - Bagaimana perang AS-Israel melawan Iran dapat mengganggu migrasi burung?
Nationalgeographic.co.id— Perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran kini telah memasuki minggu ketiga. Serangan dan kebakaran di fasilitas minyak yang terus terjadi di beberapa bagian Timur Tengah tidak hanya berdampak pada manusia dan ekonomi.
Para ahli satwa liar memperingatkan bahwa konflik tersebut juga berpotensi memengaruhi jutaan burung yang setiap tahun melintasi wilayah Teluk melalui jalur migrasi utama. Bagaimana perang itu dapat memengaruhi jalur migrasi burung?
Teluk Arab terletak di sepanjang jalur migrasi penting yang menghubungkan Eropa, Asia Tengah, Afrika, dan Asia Selatan. Lahan basah dan habitat pesisir di kawasan ini menjadi tempat singgah dan mencari makan yang penting bagi burung-burung yang sedang melakukan perjalanan jauh antar benua.
Para ahli mengatakan bahwa kepulan asap, polusi, serta ledakan berulang yang berkaitan dengan perang AS, Israel, dan Iran dapat mengganggu ekosistem yang rapuh ini serta mengacaukan jalur migrasi burung.
Ahli satwa liar dan penulis buku Birds of Dubai, Dr. Reza Khan, mengatakan bahwa perang sering kali membawa dampak besar terhadap satwa liar dan ekosistem. "Konflik militer jarang hanya memengaruhi manusia. Ledakan, kebakaran fasilitas minyak dan gas, serta asap yang menyebar dapat memberi tekanan berat pada satwa liar dan ekosistem," kata Khan kepada Khaleej Times.
Bagaimana Perang AS-Israel vs Iran dapat Mengganggu Migrasi Burung?
Dampak seperti ini pernah terlihat setelah Perang Teluk pada tahun 1991. Studi setelah perang tersebut memperkirakan sekitar 20.000 hingga 30.000 burung laut mati di wilayah Teluk Arab akibat tumpahan minyak besar-besaran yang mencemari habitat pesisir.
Di beberapa wilayah, tingkat kematian pada populasi burung laut tertentu diperkirakan mencapai 22 hingga 50 persen, terutama pada spesies seperti burung kormoran dan burung grebe.
Perang itu juga menyebabkan ratusan sumur minyak di Kuwait terbakar. Kebakaran tersebut menghasilkan awan asap sangat besar yang bahkan terlihat dari luar angkasa dan membuat langit di kawasan tersebut gelap selama berbulan-bulan. "Asap ini mengandung jelaga, senyawa sulfur, serta gas beracun yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan keracunan pada burung," kata Khan.
Selain itu, polusi asap juga dapat mengganggu aktivitas serangga, yang merupakan sumber makanan utama bagi banyak spesies burung.
Burung-burung yang bermigrasi—mulai dari flamingo, bangau, hingga berbagai jenis burung pantai dan burung laut—bergantung pada lahan basah, dataran lumpur, dan hutan mangrove di sepanjang pesisir Teluk sebagai tempat beristirahat dan mencari makan selama perjalanan panjang mereka.
Baca Juga: Menyelidiki Burung Asing Invasif di Taman-Taman Kota Bandung
Halaman:
1 2
Tag:
Perang Ekosistem Burung Migrasi Burung
Mutakhir
Populer




