Doktor ITS Kembangkan Model STRC untuk Maksimalkan Energi Surya
Sumber Foto: Tempo.co
Teknologi

Doktor ITS Kembangkan Model STRC untuk Maksimalkan Energi Surya

INOVASI teknologi dihasilkan oleh Akhmad Musafa, lulusan program doktor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang melakukan pengembangan model Solar Tracker-Rainfall Collector (STRC) untuk memaksimalkan tangkapan energi surya. Melalui penelitiannya, doktor yang biasa disapa Musafa ini, mengintegrasikan STRC pada sistem Photovoltaic-Pumped Hydro Storage-Rainfall Storage (PV-PHS-RS).

Lelaki asal Brebes ini menjelaskan bahwa sistem yang digunakan dapat mengatasi permasalahan baterai konvensional yang memiliki masa pakai dan berpotensi menjadi limbah. Sistem yang diusung menggantikan baterai dengan pumped hydro storage (PHS) sebagai tempat penyimpanan energi.

“Secara garis besar, PHS bekerja pada dua mode pengoperasian, yaitu mode pumping dan generating, yang dianalogikan jika pada baterai seperti charging dan discharging, ” kata Musafa melalui keterangan tertulis, Kamis, 26 Februari 2026.

Dia mengatakan ketika siang photovoltaic (PV) akan menangkap energi matahari yang kemudian dikonversi menjadi energi listrik. Energi listrik tersebut digunakan untuk memompa air dari reservoir bawah ke reservoir atas. Kondisi tersebut dianalogikan sebagai pengisian energi.

Sebaliknya, ketika PV tidak mendapat suplai cahaya matahari, maka air yang terdapat pada reservoir atas akan dialirkan ke reservoir bawah melalui jalur yang berbeda untuk memutar turbin yang dikopel dengan generator agar menghasilkan listrik.

Tak hanya itu, untuk menyelesaikan masalah energi matahari yang kurang ketika musim penghujan, Musafa memberikan solusi melalui model STRC tersebut. Solar Tracker dipasang untuk memaksimalkan penangkapan cahaya matahari, sedangkan rainfall collector digunakan untuk menangkap air hujan guna mengisi reservoir atas. “Air hujan yang terkumpul pada reservoir atas tetap bisa dimanfaatkan untuk memutar turbin,” kata dia.

Penelitian untuk disertasinya ini dibimbing oleh Guru Besar Departemen Teknik Elektro ITS, Mauridhi Hery Purnomo, sebagai promotor. Selain itu, juga ada dosen Laboratorium Instrumentasi, Pengukuran, dan Identifikasi Sistem Tenaga dan Perancangan Sistem Kerja ITS, Ardyono Priyadi, dan Vita Lystianingrum sebagai co-promotor. Lelaki berusia 46 tahun ini tak hanya menunjukkan inovasinya yang ramah lingkungan, tetapi juga riset yang mendalam sebelumnya.

Mulai berkecimpung tentang PV sejak 2016, Musafa mendapatkan banyak kesempatan untuk berkembang. Salah satunya ketika ia memasukkan hibah penelitiannya ke dalam program kerja sama antara ITS dan Universitas Budi Luhur, tempatnya mengabdi sebagai dosen. Bahkan, topik penelitian PV tersebut juga digunakan mahasiswanya untuk mengikuti ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). “Sejak saat itu saya mulai tertarik dengan topik riset energi terbarukan,” ucap lelaki kelahiran 7 Februari 1980 itu.

Dengan penelitian ini, Musafa berkeinginan agar inovasi yang ia bawakan dapat direalisasikan di masyarakat, khususnya untuk daerah yang masih terkendala akses listrik dari negara agar tercipta kemandirian energi yang ramah lingkungan. Ke depannya, energi listrik yang dihasilkan dari sistem PV-PHS-RS diharapkan dapat dimanfaatkan untuk irigasi pertanian, posyandu, atau klinik di daerah terpencil.

Inovasi sivitas akademika tersebut menjadi bukti komitmen ITS dalam memfasilitasi mahasiswanya pada ranah kebaruan energi bersih. Hal ini sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau serta poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.