Evolusi Bisnis Ganja di Thailand: Regulasi yang Tidak Konsisten dan Tantangan Penegakan Hukum
Sejak didekriminalisasi pada bulan Juni 2022, bisnis ganja di Thailand mengalami pertumbuhan yang pesat. Simbol tanaman ganja kini terlihat di berbagai lokasi, termasuk di Sukhumvit Road, salah satu jalan paling internasional di Bangkok. Gambar daun ganja berwarna hijau cerah muncul di banyak tempat, mencerminkan perubahan besar dalam kebijakan narkotika di negara tersebut.
Dalam perjalanan dua kilometer dari kantor BBC di Bangkok, pengunjung akan menemukan lebih dari 40 apotek yang menjual kuncup bunga ganja dan peralatan merokok. Di Khao San Road, pusat perbelanjaan bertema ganja seperti Plantopia menyajikan beragam produk di tengah kabut asap yang dihasilkan oleh pelanggan yang mencoba produk tersebut.
Data menunjukkan lebih dari 4.000 bisnis di seluruh Thailand kini terlibat dalam penjualan produk ganja. Sebelumnya, hingga Juni 2022, kepemilikan ganja di Thailand dapat dihukum dengan penjara selama lima tahun, dan produksi dapat terancam hukuman hingga 15 tahun. Dengan demikian, perubahan ini terasa sangat dramatis.
Menurut Kitty Chopaka, pendiri Chopaka, sebuah perusahaan konsultan industri ganja, meski sudah ada regulasi, pelaksanaan penegakan hukum masih sangat tidak konsisten. "Kami butuh regulasi yang jelas untuk menentukan apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan," ujarnya. Ketidakjelasan ini menyebabkan kebingungan di kalangan masyarakat mengenai kebijakan yang berlaku.
Banyak apotek yang tidak memiliki lisensi resmi, dan tidak semua produk yang dijual mematuhi aturan yang ada. Produk yang mengandung lebih dari 0,2 persen THC tidak diperbolehkan, dan penjualan produk ganja secara online seharusnya dilarang. Namun, kenyataannya, banyak pedagang menawarkan produk ilegal seperti brownies dan permen ganja yang memiliki kandungan THC tinggi.
Selain itu, ganja tidak boleh dijual kepada individu di bawah usia 20 tahun, namun pengiriman produk melalui kurir ojek masih terjadi. Restoran yang menyajikan hidangan berbasis ganja semakin menjamur, sementara minimarket menjual air minum yang mengandung ganja.
Penegakan hukum yang lemah juga menjadi perhatian. Polisi mengakui bahwa mereka sendiri tidak sepenuhnya memahami apa yang legal dan tidak, sehingga banyak aturan yang tidak ditegakkan. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan masa depan industri ganja di Thailand.
Perubahan kebijakan ini sebagian dipicu oleh Anutin Charnvirakul, pemimpin partai politik terbesar di Thailand, yang menjadikan dekriminalisasi ganja sebagai bagian dari janji kampanyenya pada pemilu 2019. Janji tersebut ditujukan untuk menarik pemilih dengan harapan bahwa ganja dapat menjadi sumber pendapatan bagi petani miskin.
Namun, proses untuk mengesahkan regulasi baru berjalan lambat karena adanya perseteruan antar partai politik. Dengan pemilu kembali dijadwalkan pada bulan Mei mendatang, kemungkinan undang-undang baru akan disahkan sebelum akhir tahun ini sangat kecil.
Seorang pengusaha muda bernama Tukta, yang memulai bisnis ganja tahun lalu, menyatakan kekhawatirannya terhadap perubahan regulasi yang mungkin terjadi. Meskipun dia telah menginvestasikan lebih dari satu juta baht untuk membuka toko ganja dan kedai kopi, ia merasakan dampak persaingan dari banyaknya toko-toko lain yang bermunculan.
“Harganya jatuh karena ada demam ganja,” ungkap Kitty Chopaka, menyoroti tantangan bagi para pelaku usaha dalam industri ini. Sementara itu, ada kesadaran bahwa budaya tradisional dan pengetahuan lokal tentang ganja perlu diintegrasikan untuk memaksimalkan potensi industri ini di Thailand.
Sejarah ganja di Thailand sendiri terjalin erat dengan budaya masyarakat. Hingga akhir 1970-an, ganja banyak dibudidayakan oleh suku-suku perbukitan dan digunakan dalam masakan. Namun, setelah tekanan internasional untuk mengurangi produksi narkotika, kebijakan terhadap ganja menjadi sangat ketat.
Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap ganja sebagai alternatif pengobatan dan peluang ekonomi telah meningkat. Beberapa pengusaha optimis bahwa bisnis ganja bisa berkembang pesat di Thailand, namun mereka juga menekankan pentingnya regulasi yang lebih baik untuk mencegah dampak negatif yang mungkin timbul.
Sementara itu, masyarakat Thailand menunjukkan beragam sikap terhadap legalisasi ganja. Beberapa orang berpendapat bahwa legalisasi ini berpotensi merugikan, sementara yang lain melihatnya sebagai langkah positif. Toko-toko ganja di Bangkok saat ini sebagian besar dikunjungi oleh turis asing, meskipun ada segmen masyarakat yang telah menggunakan ganja secara rutin.
Dengan begitu banyak dinamika yang terjadi, masa depan industri ganja di Thailand tetap menjadi tanda tanya. Mungkinkah perubahan regulasi akan terjadi, atau bisnis ini akan terus berkembang tanpa pengawasan yang memadai? Hanya waktu yang akan menjawab pertanyaan tersebut.




