Gajah Sumatera Ditemukan Mati di Ukui, RAPP dan Jikalahari Serukan Investigasi
BUKAMATA.CO, PELALAWAN, — Skandal kematian tragis satwa dilindungi kembali mengguncang Bumi Lancang Kuning. Seekor Gajah Sumatera ditemukan tewas dengan kondisi kepala termutilasi di Sektor Ukui, Kabupaten Pelalawan.
Menanggapi peristiwa berdarah di wilayah kerjanya, raksasa kertas PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) memberikan pernyataan resmi.
Sikap Resmi RAPP, Mengecam dan Dukung Investigasi
Melalui pernyataan tertulis, Corporate Communications Manager RAPP, Disra Alldrick, mengonfirmasi bahwa Tim Penanggulangan Konflik Satwa Liar (TPKSL) perusahaan telah melaporkan temuan tersebut kepada BBKSDA Riau dan pihak Kepolisian segera setelah bangkai ditemukan pada Senin (2/2).
"RAPP mengecam keras tindakan kejam yang diduga dilakukan oleh oknum pelaku yang tidak bertanggung jawab. Aksi tersebut tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga mengancam upaya pelestarian dan perlindungan satwa liar yang terus dilakukan bersama para pihak," tegas Disra kepada bukamata.co, Jumat (6/2).
Perusahaan kata Disra menyatakan telah berkoordinasi dengan instansi terkait dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak berwenang.
PT RAPP kata dia juga mengeklaim tetap berkomitmen menjalankan pengelolaan kawasan dan penanganan konflik satwa liar melalui kerja sama dengan pemerintah.
Baca juga : Eksekusi Keji Gajah Sumatera di Ukui: Ditembak di Dahi, Kepala Dimutilasi Demi Gading Satu Meter
Sebelumnya diberitakan, Koordinator Jikalahari, Okto Yugo Setiyo, menegaskan bahwa insiden ini bukan sekadar kriminalitas biasa, melainkan cermin kegagalan sistemik dari pemegang izin lahan.
"Kami sangat berduka. Ini bukan sekadar kematian satwa, tapi sebuah kegagalan sistemik. Kami mendesak Polda Riau, BBKSDA, dan Gakkum Kemenhut segera mengungkap dalang pembantaian ini," tegas Okto dalam keterangan resminya, Jumat (6/2).
Ladang Pembantai di Wilayah 'Penyangga"
Berdasarkan investigasi Jikalahari, lokasi kematian gajah di Sektor Ukui merupakan daerah penyangga (buffer zone) Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).
Ironisnya, dalam dokumen internal perusahaan bertajuk "Identifikasi Nilai Konservasi Tinggi (NKT)", PT RAPP sendiri mengakui wilayah seluas 1.872 hektare di sektor tersebut berfungsi sebagai koridor pergerakan gajah.
Fakta bahwa pembantaian terjadi di jalur koridor satwa menunjukkan lemahnya kontrol operasional perusahaan.
Jikalahari menilai PT RAPP gagal menjalankan fungsinya sebagai benteng alam bagi keanekaragaman hayati.
"Konsesi yang katanya terpantau dan terlindungi, nyatanya berubah menjadi ladang pembantaian. Kematian gajah ini menunjukkan korporasi tidak mampu hidup berdampingan dengan alam," tambah Okto.
Menelanjangi Komitmen SFMP 2.0 dan Sertifikasi FSC
Kematian gajah ini menjadi tamparan keras bagi APRIL Group, induk dari PT RAPP. Jikalahari menyebut insiden ini meruntuhkan kampanye keberlanjutan (sustainability) SFMP 2.0 yang selama ini dijajakan korporasi di pasar global.
Lebih jauh, Jikalahari mendesak Forest Stewardship Council (FSC) untuk membuka mata dan menolak proposal sertifikasi ramah lingkungan yang sedang diajukan oleh APRIL Group.
Upaya "tobat" korporasi melalui sertifikasi internasional dinilai kontradiktif dengan realitas berdarah di lapangan.
"Lagi-lagi APRIL menunjukkan ketidakseriusannya. FSC harus menginvestigasi kasus ini dan menolak proposal sertifikasi mereka," kata Okto dengan nada tajam.




