Geng Motor Remaja: Pencarian Jati Diri dan Tantangan Kontrol Sosial
Sentra Media - RRI.CO.ID, Bengkulu - Fenomena geng motor yang melibatkan remaja dan kerap meresahkan masyarakat kembali menjadi sorotan. Aksi konvoi ugal-ugalan, balap liar, hingga tindakan kriminal seperti perusakan dan kekerasan membuat keberadaan kelompok ini tidak hanya mengganggu ketertiban umum, tetapi juga mengancam keselamatan pengguna jalan lainnya.
Lalu, apa sebenarnya yang mendorong remaja bergabung dalam geng motor?
Dalam kajian Psikologi Remaja, masa remaja merupakan fase pencarian jati diri. Pada tahap ini, individu cenderung ingin diakui, diterima, dan merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu.
Psikolog perkembangan Erik Erikson menjelaskan bahwa remaja berada pada tahap identity vs role confusion, di mana mereka berusaha menemukan siapa diri mereka sebenarnya. Ketika tidak menemukan ruang yang positif, sebagian remaja mencari pengakuan melalui kelompok seperti geng motor.
Geng motor menawarkan rasa kebersamaan, loyalitas, dan identitas kelompok yang kuat. Remaja yang merasa kurang diperhatikan di lingkungan keluarga atau sekolah cenderung mencari “keluarga kedua” di luar rumah. Di dalam geng, mereka mendapatkan pengakuan, status, bahkan rasa bangga—meskipun sering kali diwujudkan dalam bentuk perilaku negatif.
Lingkungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap perilaku remaja. Jika seseorang berada di lingkungan yang sudah terbiasa dengan budaya geng motor, peluang untuk ikut terlibat menjadi lebih tinggi. Faktor teman sebaya (peer pressure) juga sangat dominan. Demi diterima, remaja sering kali mengikuti norma kelompok, termasuk melakukan aksi berbahaya di jalanan.
Kurangnya kontrol dan komunikasi dalam keluarga menjadi salah satu faktor utama. Orang tua yang sibuk atau kurang terlibat dalam kehidupan anak membuat remaja lebih bebas mencari aktivitas di luar rumah tanpa arahan yang jelas.
Ketika tidak ada batasan yang tegas, remaja lebih rentan terjerumus pada perilaku menyimpang, termasuk bergabung dengan geng motor. Sebagian remaja tertarik pada aktivitas berisiko tinggi karena memicu adrenalin. Balap liar dan konvoi di jalan raya memberikan sensasi kebebasan dan tantangan yang dianggap “seru”. Namun, tanpa kesadaran akan risiko, aktivitas ini dapat berujung pada kecelakaan hingga tindak kriminal.
Psikolog klinis Vanika Oktia menilai bahwa fenomena geng motor tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan dasar remaja akan perhatian dan penerimaan. Menurutnya, “Remaja yang tidak mendapatkan ruang ekspresi yang sehat cenderung mencari pelampiasan di luar, termasuk dalam kelompok yang memberi rasa ‘diakui’, meski dengan cara yang salah.”
Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam membentuk perilaku remaja. Komunikasi yang terbuka, pengawasan yang proporsional, serta kegiatan positif dapat menjadi kunci pencegahan.
Penanganan geng motor tidak cukup hanya dengan penindakan hukum. Dibutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif, seperti:
Penyediaan ruang kreativitas bagi remaja (komunitas otomotif resmi, olahraga, seni)
Edukasi keselamatan berkendara
Penguatan peran sekolah dan keluarga dalam pembinaan karakter
Fenomena geng motor pada remaja bukan sekadar persoalan kenakalan, melainkan cerminan dari kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi. Dengan pendekatan yang tepat—melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat—remaja dapat diarahkan ke aktivitas yang lebih positif dan produktif, sehingga jalanan menjadi lebih aman bagi semua.
Kata Kunci / Tags
KenakalanRemaja KenapaRemajaIkutGengMotor




