Harga Cengkih Turun Drastis, Petani di Sulawesi Tengah Mengeluh
Sumber Foto: trilogi.co.id
Sentra Liputan

Harga Cengkih Turun Drastis, Petani di Sulawesi Tengah Mengeluh

Sejumlah petani cengkih di Provinsi Sulawesi Tengah mengeluhkan penurunan harga komoditas perkebunan tersebut yang terjadi secara drastis saat memasuki masa panen raya. Di Kabupaten Donggala, petani seperti Surman dari Desa Balukang melaporkan bahwa harga cengkih kering anjlok dari Rp120.000 per kilogram menjadi Rp70.000 per kilogram.

Surman menyatakan, "Justru harga turun saat panen raya, dan tentu sangat merugikan petani karena biaya atau ongkos buruh petik cukup mahal." Ia menambahkan bahwa petani berharap hasil panen tahun ini dapat memberikan keuntungan lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun kenyataannya harga cengkih di tingkat pedagang pengumpul mengalami penurunan yang signifikan.

Hal serupa juga dialami oleh petani lain, Faisal, yang berasal dari Desa Ujumbou, Kabupaten Donggala. Ia menyampaikan bahwa harga cengkih di daerahnya kini rata-rata hanya Rp69.000 per kilogram, padahal sebelumnya harga tersebut berada di atas Rp100.000 per kilogram.

Penurunan harga ini disoroti sebagai masalah serius bagi petani cengkih di Sulawesi Tengah, yang merupakan salah satu sentra produksi terbesar di daerah tersebut. Kabupaten Tolitoli, Donggala, Parigi Moutong, dan Poso merupakan daerah utama penghasil cengkih di provinsi ini. Komoditas ini biasanya dibeli oleh pedagang pengumpul untuk dipasarkan di Pulau Jawa, terutama sebagai bahan baku industri rokok.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Tengah, Zainudin, menjelaskan bahwa fluktuasi harga cengkih di pasaran sangat bergantung pada perkembangan harga di tingkat konsumen, yaitu pabrik rokok. "Jika harga pembelian pabrik baik, maka harga di tingkat pengumpul juga akan membaik, dan sebaliknya," ujarnya.