Indonesia Bertekad Menjadi Pusat Manufaktur Furnitur Global
Sentra Media - Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan posisi sebagai hub manufaktur furnitur global, dengan nilai Manufacturing Value Added (MVA) mencapai USD 265,07 miliar, menempatkan negara ini di peringkat ke-13 dunia dan pertama di ASEAN.
Awal Kejadian
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa industri furnitur berperan penting dalam memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Selain itu, sektor ini dikenal sebagai industri padat karya yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan mendorong aktivitas ekonomi di daerah.
Perkembangan
Industri furnitur disebut sebagai model hilirisasi kayu yang krusial, mampu menciptakan nilai tambah, dan memberikan efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Dalam lima tahun ke depan, Indonesia diproyeksikan dapat meningkatkan kapasitas produksi serta memimpin dalam desain dan keberlanjutan. Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menekankan bahwa sektor ini merupakan pilar hilirisasi berbasis sumber daya alam, dengan komitmen untuk mendorong transformasi menjadi pusat manufaktur global.
Kondisi Terakhir
Meski demikian, industri furnitur dalam negeri menghadapi tantangan, termasuk penurunan ekspor sebesar 3% pada tahun 2025 dan kenaikan impor sebesar 6%. Pemerintah optimistis dapat mengatasi tantangan ini melalui penguatan struktur industri nasional, dengan fokus pada modernisasi mesin dan peningkatan daya saing untuk merebut kembali pasar domestik serta memperluas penetrasi ekspor. Tantangan lain yang dihadapi berasal dari geopolitik dan regulasi lingkungan global yang perlu diatasi dengan kesiapan sertifikasi.




