Sentra Media - Pemerintah Indonesia merencanakan pembangunan pusat keuangan khusus untuk meningkatkan daya tarik negara sebagai tujuan investasi yang aman di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Pernyataan ini disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan kabinet di Istana Negara, Jakarta.
Ide pembentukan pusat keuangan ini pertama kali diusulkan beberapa tahun lalu oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan, dengan Bali sebagai lokasi yang awalnya dipertimbangkan.
Prabowo menekankan relevansi proposal ini semakin meningkat seiring upaya Indonesia untuk meyakinkan investor mengenai stabilitas iklim bisnis di tengah ketidakpastian global. Ia menyebutkan perpindahan warga negara Rusia dan Ukraina ke Bali pasca pecahnya perang pada tahun 2022 sebagai contoh perubahan dinamika global yang memengaruhi arus investasi.
Menurut Presiden, pusat keuangan yang direncanakan ini diharapkan dapat menarik investor yang sebelumnya menargetkan Timur Tengah tetapi kini mempertimbangkan kembali di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut. Ia juga menyatakan bahwa krisis global seharusnya dilihat sebagai peluang bagi Indonesia untuk memperluas peran ekonominya.
Pemerintah tengah meningkatkan upaya untuk menarik investasi di berbagai sektor, termasuk energi terbarukan dan ekonomi digital, guna memenuhi target investasi sebesar Rp2.175 triliun pada tahun ini. Data dari Kementerian Investasi dan Penanaman Modal menunjukkan bahwa realisasi investasi pada tahun 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun, melampaui target resmi sebesar Rp1.905,6 triliun.