Inovasi Genteng Ramah Lingkungan Dukung Program Gentengisasi di Indonesia
Kementerian Koperasi mendorong produksi genteng ramah lingkungan menggunakan teknologi pencampuran limbah batu bara dan tanah liat, mendukung program gentengisasi Presiden Prabowo Subianto untuk hunian yang lebih baik.
22:00:48
Indonesia mengambil langkah maju dalam upaya peningkatan kualitas hunian dan pengelolaan lingkungan melalui inovasi teknologi pada produksi genteng. Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyatakan bahwa produsen berbasis desa kini dapat memanfaatkan teknologi baru untuk menciptakan genteng yang lebih ringan dan kuat. Inisiatif ini sejalan dengan dorongan Presiden Prabowo Subianto untuk mengganti atap seng dengan genteng tanah liat sebagai bagian dari peningkatan lingkungan dan perumahan yang lebih luas.
Pengembangan ini berpusat pada metode produksi yang mencampurkan limbah batu bara dengan tanah liat, sebuah pendekatan yang diharapkan dapat meningkatkan kekuatan dan daya tahan genteng tanah liat tradisional. Selain itu, teknologi ini juga berpotensi mengurangi bobot genteng secara signifikan. Ferry Juliantono menyampaikan hal ini dalam sebuah acara di Jogja Expo Center, Yogyakarta, pada Sabtu lalu.
Penerapan teknologi inovatif ini diharapkan tidak hanya menghasilkan produk yang lebih unggul, tetapi juga mendukung kebijakan pemerintah yang dikenal sebagai “ gentengisasi ”. Program ini merupakan transformasi atap berskala nasional dari penggunaan seng ke genteng tanah liat, yang memiliki implikasi positif bagi kenyamanan penghuni dan keberlanjutan lingkungan.
Inovasi Teknologi untuk Genteng Lebih Kuat dan Ringan
Menteri Koperasi Ferry Juliantono menjelaskan bahwa Koperasi Desa Merah Putih dapat mengadopsi metode produksi yang mencampurkan limbah batu bara dengan tanah liat. Proporsi kecil sisa limbah batu bara ini dapat dicampur ke dalam genteng berbasis tanah liat, menghasilkan produk yang lebih unggul.
“Material ini dapat dicampur ke dalam genteng berbasis tanah liat dengan proporsi kecil sisa limbah batu bara,” kata Juliantono. “Hasilnya adalah genteng yang lebih ringan, lebih kuat, dan lebih tangguh.”
Inovasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas fisik genteng, tetapi juga membuka peluang baru bagi koperasi desa untuk memproduksi bahan bangunan yang lebih efisien. Dengan demikian, teknologi ini berpotensi mengurangi biaya produksi, membuat genteng lebih terjangkau bagi rumah tangga dan mendukung industri berbasis koperasi lokal.
Program Gentengisasi dan Manfaat Lingkungan
Teknologi baru ini selaras dengan usulan Presiden Prabowo untuk pergeseran nasional dari atap seng ke genteng tanah liat, sebuah inisiatif kebijakan yang disebut pemerintah sebagai “gentengisasi”. Fokus Presiden pada material atap ini terkait erat dengan masalah lingkungan, khususnya tantangan pengelolaan limbah yang persisten di banyak wilayah Indonesia.
“Dalam waktu dekat, pemerintah akan mendorong pengelolaan limbah agar limbah tidak lagi dibuang di TPA, tetapi diproses langsung di fasilitas pengolahan limbah,” ujar Juliantono. Ia menambahkan bahwa produk sampingan batu bara dapat digunakan kembali sebagai bahan masukan untuk material bangunan. Ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk mengatasi masalah sampah sekaligus menciptakan nilai tambah dari limbah.
Transformasi ini juga diharapkan dapat mengurangi dampak negatif limbah di tempat pembuangan akhir dan mendorong ekonomi sirkular. Dengan memanfaatkan limbah batu bara, Indonesia tidak hanya mengurangi polusi tetapi juga menciptakan sumber daya baru untuk industri konstruksi.
Peningkatan Kualitas Hunian dan Dukungan Ekonomi Lokal
Selain pertimbangan lingkungan, Juliantono mengatakan bahwa genteng tanah liat juga meningkatkan kenyamanan hunian dan kualitas visual, terutama di daerah pemukiman padat penduduk. “Ketika Presiden bepergian, ia melihat banyak rumah dengan atap seng,” kata Juliantono. “Atap seng menyerap panas dan rentan berkarat. Genteng tanah liat lebih dingin, lebih tahan lama, dan lebih baik untuk kualitas hunian jangka panjang.”
Dengan efisiensi yang lebih baik dan biaya input yang lebih rendah, pemerintah berharap koperasi desa dapat meningkatkan produksi dan memenuhi permintaan yang meningkat jika transisi dari seng ke genteng ini mendapatkan momentum. Hal ini akan memberdayakan masyarakat lokal dan menciptakan lapangan kerja, sekaligus meningkatkan standar perumahan di seluruh negeri.
Potensi Ketersediaan Bahan Baku dan Skala Produksi
Menteri Koperasi juga menekankan bahwa ketersediaan bahan baku tidak akan menjadi kendala, karena tanah liat tersedia secara luas di seluruh Indonesia. “Tanah liat ada di hampir setiap wilayah,” katanya. “Itu memberikan koperasi fondasi yang kuat untuk mengembangkan produk bernilai tambah yang bersumber secara lokal yang mendukung ekonomi dan lingkungan.”
Ketersediaan bahan baku yang melimpah ini menjadi keuntungan besar bagi program gentengisasi, memastikan keberlanjutan produksi dalam skala besar. Koperasi desa dapat memanfaatkan sumber daya lokal untuk menciptakan produk yang tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar tetapi juga berkontribusi pada pembangunan ekonomi daerah.




