Inovasi Green Diesel dari Minyak Sawit Siap Gantikan Solar
Sentra Media - Jakarta, HAISAWIT – Para peneliti Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan bahan bakar hidrokarbon serupa solar dari minyak kelapa sawit melalui metode dekarboksilasi sabun basa magnesium-seng pada tekanan atmosferik rendah.
Penelitian ini bertujuan menciptakan bahan bakar pengganti yang dapat langsung digunakan untuk mesin diesel tanpa modifikasi. Inovasi tersebut memanfaatkan potensi besar minyak dan lemak biologis sebagai sumber energi terbarukan.
Dilansir dari laman bpdp.or.id, Minggu (01/03/2026), dekarboksilasi sabun basa magnesium-seng pada suhu 350 derajat Celsius selama lima jam mampu menghasilkan rendemen produk cair sebesar 62 persen berat dengan tingkat konversi mencapai 73 persen.
Proses dekarboksilasi atau penghilangan oksigen dalam bentuk karbon dioksida (CO2) ini dilakukan menggunakan bahan baku utama berupa fasa padat dari minyak sawit yang disebut sebagai palm stearin.
Peneliti memilih palm stearin (PS) karena ketersediaannya melimpah dan harga pasar yang relatif murah. Berdasarkan analisis laboratorium, kandungan utama PS adalah asam palmitat sebesar 62,8 persen berat.
Metode ini muncul sebagai terobosan karena teknik deoksigenasi komersial saat ini melalui hidrotreatmen fase cair dinilai sangat mahal. Teknik lama tersebut memerlukan konsumsi hidrogen (H2) dalam jumlah besar.
Selain boros gas H2, metode konvensional juga menuntut kondisi operasi yang berat. Sebaliknya, riset terbaru membuktikan bahwa sintesis hidrokarbon terbarukan bisa berjalan tanpa pasokan H2 dari luar.
Keunggulan teknis dari produk green diesel (GD) atau diesel hijau hasil proses sabun basa ini dibandingkan dengan biodiesel atau fatty acid methyl ester (FAME) meliputi beberapa aspek penting:
Memiliki viskositas atau kekentalan yang lebih rendah.
Menunjukkan stabilitas bahan bakar yang jauh lebih baik.
Mempunyai kepadatan energi yang lebih tinggi untuk performa mesin.
Proses produksi dimulai dengan saponifikasi PS menggunakan natrium hidroksida (NaOH) dan etanol untuk menghasilkan sabun natrium. Kemudian dilakukan pertukaran ion menggunakan larutan magnesium asetat dan seng asetat.
Campuran magnesium-seng (Mg-Zn) dengan rasio mol 9 banding 1 bertindak langsung sebagai katalis dalam proses tersebut. Sabun basa yang terbentuk kemudian dicuci, disaring, dan dikeringkan sebelum masuk tahap dekarboksilasi.
Reaksi pemutusan rantai karbon dilakukan dalam reaktor tumpak kaca pada suhu 350 derajat Celsius. Aliran gas nitrogen (N2) digunakan untuk membuang sisa udara di dalam ruang reaktor selama proses berlangsung.
Hasil akhir menunjukkan distribusi produk hidrokarbon cair yang sangat beragam namun didominasi oleh fraksi n-heptadekana sebesar 18,90 persen mol:
Fraksi n-pentadekana sebesar 10,99 persen mol.
Fraksi n-heksadekana sebesar 5,49 persen mol.
Berbagai senyawa 1-alkena dan iso-parafin dalam jumlah signifikan.
Karakteristik fisik GD dari sawit ini memiliki angka asam yang sangat rendah, yaitu 0,4 miligram kalium hidroksida per gram sampel. Titik beku produk juga tercatat berada di bawah 5 derajat Celsius.
Keberadaan gas CO2 dalam produk sampingan memperkuat bukti terjadinya reaksi dekarboksilasi. Sementara itu, residu padat berupa magnesium-seng karbonat (Mg-ZnCO3) dapat didaur ulang kembali menjadi bahan pembuat sabun basa berikutnya.
Teknologi ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ketersediaan bahan bakar nabati secara mandiri. Penggunaan PS terbukti efektif menghasilkan bahan bakar tetes atau drop-in fuel berkualitas tinggi tanpa katalis logam mulia.
Langkah selanjutnya adalah mengoptimalkan skala produksi agar inovasi ini dapat diterapkan pada level industri nasional. Hal tersebut selaras dengan upaya pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan energi cair berbasis komoditas lokal kelapa sawit.***




