Kaouther Ben Hania Tolak Penghargaan sebagai Protes Genosida Israel di Gaza
Sutradara Tunisia Kaouther Ben Hania menolak menerima penghargaan “Most Valuable Film” di gala Cinema for Peace di Berlin, Jerman, pada Kamis, 19 Februari 2026. Aksi ini merupakan bentuk protes keras terhadap apa yang ia sebut sebagai “perang genosida Israel di Gaza” dan perlindungan politik internasional yang diberikan.
Sutradara Kaouther Ben Hania menolak sebuah penghargaan yang akan diterimanya di Berlin.
Penolakan ini adalah sikap protes terhadap konflik dan situasi kemanusiaan di Gaza.
Ia menyerukan akuntabilitas atas tindakan yang disebut sebagai genosida di Gaza.
Keputusan ini juga dipicu oleh adanya penghargaan yang diberikan kepada seorang tokoh militer Israel dalam konteks acara terpisah di Berlin.
Ben Hania dikenal atas karyanya, termasuk film yang mengangkat kisah dari Gaza.
Ben Hania, yang karyanya berjudul The Voice of Hind Rajab memenangkan penghargaan tersebut, menegaskan bahwa pembunuhan gadis Palestina berusia lima tahun, Hind Rajab, oleh tentara Israel bukanlah insiden terisolasi, melainkan bagian dari genosida sistematis.
Keadilan dan Akuntabilitas
“Perdamaian bukanlah parfum yang disemprotkan di atas kekerasan agar kekuasaan bisa merasa halus, dan bisa merasa nyaman,” ujar Ben Hania di hadapan audiens. “Jika kita berbicara tentang perdamaian, kita harus berbicara tentang keadilan. Keadilan berarti akuntabilitas.”
Ia menekankan bahwa militer Israel bertanggung jawab atas kematian Rajab, keluarganya, dan dua paramedis yang dikirim untuk menyelamatkannya, dengan “keterlibatan pemerintah dan institusi paling kuat di dunia”. Ben Hania menolak membiarkan industri film menggunakan dokumenternya untuk “pencucian citra” dan meninggalkan trofinya di podium sebagai pengingat akan struktur yang memungkinkan pembunuhan massal warga sipil.
“Saya menolak membiarkan kematian mereka menjadi latar belakang pidato sopan tentang perdamaian,” kata Ben Hania. “Ketika perdamaian dikejar sebagai kewajiban hukum dan moral, berakar pada akuntabilitas untuk genosida, maka saya akan kembali dan menerimanya dengan sukacita.”
Surat Terbuka dari Sineas Dunia
Aksi Ben Hania di Berlin ini terjadi setelah lebih dari 80 profesional film terkemuka, termasuk aktor Javier Bardem, Tilda Swinton, dan Brian Cox, serta sutradara Mike Leigh dan Adam McKay, menandatangani surat terbuka. Surat tersebut mengkritik Festival Film Internasional Berlin, yang juga berlangsung bulan ini di ibu kota Jerman.
Para penandatangan, yang dikoordinasikan oleh kelompok Film Workers for Palestine, mengutuk “rasisme anti-Palestina” Berlinale dan kegagalannya menuntut akuntabilitas atas pelanggaran hukum internasional. Surat itu menyoroti standar ganda festival, membandingkan keheningan institusionalnya terhadap Gaza dengan solidaritas vokal untuk Ukraina dan Iran.
Menurut pantauan Mureks, isu konflik di Gaza memang kerap menjadi sorotan dalam berbagai forum internasional, termasuk seni dan budaya, memicu berbagai bentuk protes dan tuntutan akuntabilitas dari berbagai pihak.




