Kapolda Sulut Tegaskan Bentrokan di Watuliney Murni Tindak Kriminal
Sumber Foto: Berita Manado
Sosial

Kapolda Sulut Tegaskan Bentrokan di Watuliney Murni Tindak Kriminal

?Mitra, BeritaManado.com – Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Dr Roycke Langie menegaskan bahwa insiden bentrokan di Desa Watuliney, yang terjadi pada Minggu dini hari (30/11) kemarin adalah murni tindak kriminal.

“Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan tidak terpancing oleh isu-isu yang mengaitkan peristiwa tersebut dengan unsur Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA)”, ujar Kapolda.

Pernyataan tegas ini disampaikan usai pertemuan koordinasi Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), di gedung Gereja GMIM Silo Watuliney.

Pihak keamanan meminta semua pihak, termasuk media, untuk berhati-hati dalam menyebarkan informasi agar tidak memperkeruh suasana.

“Tapi sekali lagi saya sampaikan bahwa permasalahan kemarin itu adalah kriminal murni. Kalau ada pihak-pihak yang mau menggiring kepada SARA, itu tolong diingatkan,” tegas Kapolda.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, bersama Gubernur, Pangdam, dan jajaran Forkopimda tingkat provinsi hingga kabupaten telah sepakat untuk menjaga stabilitas keamanan. Kesepakatan ini didasari oleh semangat hidup bersama dalam keberagaman.

“Kita ini kan hidup bersama. Tidak ada tempat yang tidak beragam. Karena itu memang sesuatu yang berbeda itu indah,” ujarnya.

Kapolda Sulut menekankan pentingnya menjadikan kohesi sosial sebagai kekuatan untuk kemajuan dan kesejahteraan bersama, bukan sebagai pemecah belah.

Imbauan untuk Tokoh Masyarakat dan Warga

?Dalam kesempatan tersebut, Kapolda juga meminta peran aktif para tokoh masyarakat untuk menjadi penyejuk di tengah warga. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah terhasut oleh provokasi yang beredar, terutama melalui media sosial.

“Masyarakat jangan gampang terpancing. Kita lihat provokasi melalui media sosial sudah banyak.” imbau Kapolda.

Penegakan Hukum: 3 Orang Sudah Ditahan

Terkait proses hukum, aparat kepolisian telah mengambil langkah tegas. Hingga saat ini, sudah ada tiga orang yang diamankan terkait insiden tersebut, dan jumlah ini kemungkinan bisa bertambah seiring dengan pengembangan penyelidikan dan bukti-bukti yang ada.

“Sudah beberapa orang yang ditahan. Nah sementara ini kan 3, tapi ini bisa saja, ini kan masih berproses, segala kemungkinan kan dengan bukti yang ada ini bisa bertambah,” jelasnya.

Aparat berkomitmen untuk melakukan penegakan hukum yang bermartabat terhadap siapapun yang terbukti melakukan perbuatan melawan hukum atau mengganggu keamanan.

Kehadiran TNI-Polri untuk Melindungi

Menutup keterangannya, pihak keamanan menegaskan bahwa kehadiran TNI dan Polri di lokasi memiliki satu tujuan utama, yaitu memberikan perlindungan dan menjamin keselamatan jiwa seluruh warga negara.

“Diharapkan dengan langkah cepat ini, situasi di tengah masyarakat dapat segera pulih dan aktivitas kembali berjalan normal”, tandas Kapolda Sulut Irjen Pol Dr Roycke Langie.

Pantauan BeritaManado.com di lokasi kejadian di depan Gereja GMIM Silo Watuliney, tampak situasi sudah kondusif dan aktivitas warga berjalan seperti biasanya, namun ratusan aparat gabungan TNI-Polri masih berjaga dilokasi guna memastikan situasi tetap aman dan kejadian serupa tidak berulang.

Dalam pertemuan tersebut tampak hadir Wakil Gubernur Victor Mailangkay, Kasdam XIII Merdeka Brigjen TNI Noro Yulianto, Danrem 131 Santiago Brigjen TNI Martin Susilo Turnip, Wakapolda Sulut Brigjen Pol Awi Setitono, Bupati Minahasa Tenggara Ronald Kandoli, BPMS Sinode GMIM, tokoh masyarakat dan agama di Kabupaten Minahasa Tenggara serta warga Desa Watuliney dan Desa Molompar.

Sebelumnya, perkelahian kelompok antara dua desa yakni Desa Watuliney dan Desa Molompar, terjadi di wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara, pada Minggu (30/11/2025) dini hari, sekitar pukul 01.35 Wita.

Informasi diperoleh menyebutkan, diduga kejadian tersebut dipicu karena pengaruh minuman beralkohol.

Bermula ketika kelompok anak-anak muda membuat keributan di desa lain dengan cara berteriak-teriak hingga warga dan anak-anak muda desa setempat terpancing, kemudian melakukan pengejaran dan sempat terjadi aksi saling lempar batu.