Kehidupan Malam yang Surut di Bawah Jembatan Layang Janti
Kawasan di bawah Jembatan Layang Janti, yang dulunya dikenal sebagai sentra kuliner kaki lima yang ramai, kini tampak sepi dan kehilangan daya tariknya. Suasana sore hari pada Sabtu (26/02/2022) menunjukkan para pedagang yang bersiap membuka lapak, namun tidak sebanyak dulu.
Di bawah jembatan, para pedagang mengeluarkan gerobak dari lahan kosong yang terletak 100 meter di pinggir rel kereta api. Trotoar yang dulunya dipadati pengunjung kini hanya menyisakan tikar-tikar rapi di atasnya. Ketika malam tiba, suara klakson kereta api dan tawa muda-mudi menggema, tetapi jumlah pengunjung jauh berkurang dibandingkan masa lalu.
Sejarah Sentra Kuliner
Salah satu pedagang, Indra (50), adalah pemilik warung Pecel Lele Indra Rasa yang telah berjualan sejak tahun 1990. Indra mengisahkan bagaimana kawasan ini bertransformasi menjadi sentra kuliner pada tahun 2005 setelah wacana pembuatan taman kota ditolak oleh warga karena kekhawatiran akan tindak kriminal.
Indra, yang berasal dari Lamongan, Jawa Timur, mengawali bisnisnya dengan izin dari kepala dukuh. Dalam perjalanannya, sentra kuliner ini lebih dikenal dengan penjualan pecel lele, meskipun banyak jenis makanan lain yang ditawarkan pada awalnya.
Kondisi Terkini dan Tantangan
Namun, saat ini, hanya tersisa 22 warung yang beroperasi, dan tidak semuanya buka setiap malam. Penutupan perlintasan kereta api pada akhir tahun 2017 turut berkontribusi pada berkurangnya jumlah pembeli. Resti (34), pemilik Pecel Lele Roso Sejati, menyatakan bahwa akses yang sulit membuat pelanggan enggan datang dari luar kota.
Mahasiswa menjadi mayoritas pengunjung saat ini, namun mereka tidak cukup untuk menghidupi para pedagang. Pendapatan mereka menurun hingga 50 persen, dan tambahan tantangan dari pandemi Covid-19 semakin memperparah kondisi.
Pengalaman Pedagang
Indra dan koleganya, Thole, yang juga pedagang pecel lele, membagikan pengalaman masa lalu yang penuh tantangan. Indra menghadapi preman yang meminta uang secara paksa, sementara Thole pernah ditipu oleh seorang pembeli. Meski begitu, mereka terus berjuang untuk mempertahankan usaha mereka.
Suwarno (65), seorang juru parkir, juga berbagi cerita tentang tragedi dan dinamika kehidupan di kawasan ini. Dari kecelakaan hingga tragedi berdarah, pengalaman-pengalaman tersebut menyiratkan bahwa meskipun kehidupan di bawah jembatan layang ini sarat dengan kesulitan, ada juga momen-momen indah yang terjalin di antara para pedagang dan pembeli.
Penutupan
Seiring dengan berlalunya waktu, Jembatan Layang Janti kini terasa sepi. Para pedagang menutup lapak mereka dan kembali ke rumah setelah berjam-jam berjualan. Dari awal yang ramai, kawasan ini telah berubah menjadi tempat yang sepi, mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh para pedagang kuliner di tengah perubahan zaman.




