Ketahanan Perajin Perabot Rumah Tangga Kalibaru di Tengah Persaingan Pabrikan
Perajin perabot rumah tangga di Kalibaru, Banyuwangi, terus berjuang untuk bertahan di tengah gempuran produk pabrikan. Kearifan lokal yang menjadi tumpuan hajat hidup masyarakat setempat memainkan peran penting dalam menjaga keberlangsungan usaha ini.
Salah satu pelanggan, Ani Rosita (44), yang berasal dari Desa Kronggen, Kecamatan Getasrejo, Kabupaten Purwodadi, Jawa Tengah, mengunjungi Toko Dapurku Jaya di Kalibaru untuk membeli perabot dapur berbahan stainless. Ia mengaku sering membawa oleh-oleh perabot dapur khas Kalibaru saat pulang ke Jawa Tengah, termasuk dandang, oven, dan wajan. Ani mengapresiasi kualitas barang yang ditawarkan di Kalibaru.
Selain Ani, Juriyah (53) dari Desa Kesiman Kertalangu, Kecamatan Denpasar Timur, Bali, juga terlihat berbelanja di toko perabot tersebut. Juriyah membeli perabot dapur untuk dijual kembali di Bali. Ia menilai harga di Kalibaru masih kompetitif dan menawarkan potongan harga untuk pembelian dalam jumlah besar.
Sejarah dan Perkembangan Kerajinan di Kalibaru
Kalibaru telah dikenal sebagai sentra kerajinan peralatan dapur sejak tahun 1970-an, terutama di Dusun Tegalpakis. Menurut Susanto Wibowo, Camat Kalibaru, awalnya mayoritas penduduk Kalibaru adalah petani dan buruh perkebunan. Namun, sekitar tahun 1970, warga dari Madiun mulai membuat kerajinan dandang dan wajan, menggunakan bahan dari drum. Seiring berjalannya waktu, perajin beralih ke bahan seng, dan kini sebagian besar menggunakan stainless, aluminium, dan monel.
Walaupun produk pabrikan mulai menggerus pendapatan perajin lokal, berbagai upaya pendampingan telah dilakukan untuk menjaga keberlangsungan usaha kerajinan ini. Susanto menyebutkan bahwa kerajinan ini menjadi pekerjaan utama bagi warga dan membantu melestarikan kearifan lokal.
Festival Dandang Sewu dan Dukungan Pemerintah
Festival Dandang Sewu merupakan salah satu inisiatif untuk menggeliatkan kawasan sentra produksi perlengkapan memasak di Kalibaru. Festival ini tidak hanya menyuguhkan produk lokal, tetapi juga bertujuan menarik pengunjung dari luar Banyuwangi. Susanto menjelaskan bahwa sentra industri perabot rumah tangga di Kalibaru telah diakui sebagai ikon wisata di wilayah tersebut.
Pemasangan monumen dandang raksasa di dekat kantor Kecamatan Kalibaru pada tahun 2017 juga menjadi salah satu upaya untuk menarik perhatian pengunjung. Selain itu, program pelatihan bagi warga yang tinggal di luar daerah juga diadakan untuk menjaga standar kualitas produk kerajinan Kalibaru.
Kualitas Produk dan Teknik Pembuatan
Teknik pembuatan perabot rumah tangga di Kalibaru sangat bergantung pada keterampilan para perajin. Solikin (43), salah satu perajin di Dusun Tegalpakis, menjelaskan bahwa proses pembuatan perabot membutuhkan ketelitian dan kreativitas. Meskipun alat bantu tersedia, sebagian besar proses pembuatan masih dilakukan secara manual.
Solikin menyatakan bahwa ia dapat menyelesaikan pesanan perabot umum dalam waktu satu hingga dua hari, sedangkan pesanan yang harus disesuaikan dengan permintaan pemesan bisa memakan waktu lebih dari delapan hari. Meskipun di pasaran terdapat banyak produk pabrikan, barang-barang handmade dari Kalibaru tetap memiliki pelanggan setia.
Kalibaru dikenal sebagai sentra perabot rumah tangga, menarik perhatian banyak pendatang yang singgah di Banyuwangi. Banyak di antara mereka yang sengaja membeli produk kerajinan tangan warga Kalibaru sebagai oleh-oleh, meskipun tujuan utama mereka adalah berwisata ke Bali.




