Ketahanan Produksi Sapu Ijuk di Desa Sia di Tengah Persaingan Pasar Modern
Sumber Foto: Liputan BMR
Sentra Liputan

Ketahanan Produksi Sapu Ijuk di Desa Sia di Tengah Persaingan Pasar Modern

Perkembangan Produk Kerajinan Tradisional

Desa Sia, Kecamatan Kotamobagu Utara, masih mempertahankan eksistensinya dalam produksi sapu ijuk meskipun menghadapi persaingan ketat dari sapu modern berbahan plastik. Pengrajin lokal, Krisno Paeng, menyatakan bahwa produk kerajinan tangan ini tetap menjadi pilihan masyarakat.

Permintaan yang Terus Meningkat

Krisno mengungkapkan bahwa permintaan terhadap sapu ijuk tidak hanya berasal dari Kotamobagu, tetapi juga dari daerah lain seperti Minahasa dan Bolaang Mongondow Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat banyak alternatif sapu modern, sapu ijuk tetap memiliki tempat di hati konsumen.

Warisan Budaya yang Dilestarikan

Pembuatan sapu ijuk ini merupakan bisnis yang diwariskan secara turun-temurun dari orang tua Krisno. Dalam sehari, ia mampu memproduksi antara 70 hingga 100 sapu yang siap dijual. Krisno merasa bersyukur karena masyarakat masih memilih sapu ijuk tradisional meskipun banyaknya pilihan sapu modern yang tersedia di pasaran.

Harga yang Bersaing

Menurut Krisno, harga sapu ijuk jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan sapu modern. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menarik minat konsumen untuk tetap memilih produk tradisional yang dihasilkan oleh pengrajin lokal.

Kesimpulan

Produksi sapu ijuk di Desa Sia menjadi contoh nyata bagaimana produk kerajinan tangan tradisional dapat bertahan dan bersaing di tengah arus modernisasi. Kesadaran masyarakat akan nilai dan keunikan produk lokal menjadi kunci keberlangsungan usaha ini.