Krisis Kebebasan Pers Mahasiswa: Upaya sEntra Mengatasi Sanksi dan Membangkitkan Kegiatan
Sumber Foto: BandungBergerak.id
Sentra Liputan

Krisis Kebebasan Pers Mahasiswa: Upaya sEntra Mengatasi Sanksi dan Membangkitkan Kegiatan

Bandung - Universitas Widyatama di Bandung menjadi saksi perjalanan sEntra, sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berfokus pada jurnalistik, dalam menghadapi tantangan dan sanksi yang membatasi kebebasan beraktivitasnya. Nindi Ayu Riski, yang bergabung dengan sEntra pada 2016 dan menjabat sebagai Pimpinan Umum pada 2018, berbagi pengalamannya tentang bagaimana sEntra bertransformasi dari sebuah organisasi yang terpuruk menjadi lebih aktif.

Nindi awalnya mengenal sEntra sebagai tempat yang berhubungan dengan aktivitas tulis-menulis, tanpa menyadari bahwa sEntra merupakan UKM pers. “Saya memang suka nulis, jadi mencari yang berhubungan dengan itu,” ungkapnya saat ditemui melalui Google Meet pada 24 Juli 2023. Namun, setelah bergabung, ia menyadari bahwa sEntra memiliki potensi yang jauh lebih besar.

Pada tahun-tahun awal keanggotaannya, sEntra hanya menghasilkan majalah dinding yang berisi puisi dan cerpen, tanpa ada berita kritis. Informasi mengenai vakumnya sEntra pada 2013, akibat permasalahan dengan Bramatala, UKM pecinta alam, baru ia ketahui setelah berdiskusi dengan alumni. “Kronologi kejadian itu masih samar, banyak alumni yang juga tidak tahu,” jelas Fathiya, Pimpinan Umum sEntra periode 2022-2023.

Kejadian yang Memicu Sanksi

Kejadian yang menyebabkan vakumnya sEntra bermula dari insiden tragis saat Bramatala mengadakan kegiatan Diklatsar di Ranca Upas, yang berujung pada kematian seorang peserta. Berita yang ditulis sEntra mengenai insiden ini memicu reaksi keras dari pihak Bramatala dan menyebabkan penonaktifan UKM tersebut serta pembatasan kegiatan sEntra. “Kami berada dalam posisi terjepit,” ungkap Nindi, menggambarkan situasi yang dihadapi anggota sEntra saat itu.

Sejak saat itu, sEntra mengalami pembatasan yang berlanjut hingga 2017 ketika Nindi kembali menjabat sebagai Pemimpin Redaksi. Ketika sEntra meliput pelanggaran aturan merokok di kampus, Nindi dipanggil oleh Biro Kemahasiswaan yang meminta persetujuan sebelum berita diterbitkan. “Kami berpegang pada prinsip bahwa pers tidak seharusnya berada di bawah naungan siapa pun,” tegas Nindi.

Implikasi Sanksi terhadap Organisasi

Sanksi pembatasan kegiatan berdampak signifikan terhadap eksistensi sEntra di kalangan mahasiswa. Nindi mengungkapkan bahwa sEntra kehilangan identitas dan perannya sebagai pers mahasiswa. “Kami tidak bisa mengambil posisi kritis terhadap isu-isu kampus,” ujarnya. Struktur organisasi sEntra juga terlihat kurang rapi, dengan pengarsipan yang tidak memadai.

Hega, Pemimpin Redaksi tahun 2021, mengakui bahwa banyak dokumen penting hilang karena pembatasan yang diberlakukan. “Untungnya, dokumen AD-ART masih ada,” tambahnya. Dengan adanya sanksi tersebut, sEntra terpaksa terhenti dari kegiatan jurnalistik yang seharusnya menjadi inti dari eksistensinya.

Tantangan di Lingkungan Lain

Fenomena ini tidak hanya terjadi di sEntra. Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung (FKPMB) mencatat bahwa banyak Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di Bandung mengalami tindakan represif. Dalam survei yang dilakukan, terdapat 34 kasus kekerasan terhadap pers mahasiswa dalam periode 10 tahun terakhir, dengan pelaku utama berasal dari lingkungan kampus.

Upaya untuk Bangkit

Setelah menghadapi berbagai tantangan, sEntra berupaya untuk bangkit kembali. Nindi dan timnya menyusun visi dan misi baru serta menggelar Widyatama Journalism Festival (WJF) yang pertama kali dilaksanakan pada 2018. Festival ini tidak hanya memperkenalkan sEntra kepada LPM lain, tetapi juga membangun kepercayaan diri anggota dalam meliput isu-isu kampus.

Fathiya, yang menjabat sebagai Pimpinan Umum pada 2022, menekankan pentingnya peningkatan kapasitas anggota dan sistem kaderisasi yang lebih baik. “Kami percaya bahwa dengan mengikuti kode etik jurnalistik, kami bisa menghadapi tantangan di masa depan,” ujar Fathiya.

Kesimpulan

Kisah sEntra menjadi contoh bagaimana kebebasan pers mahasiswa dapat terancam oleh berbagai faktor, namun juga menunjukkan bahwa dengan komitmen dan kolaborasi, organisasi dapat bangkit dari keterpurukan. Upaya untuk memperkuat jejaring dan bersinergi dengan organisasi lain diharapkan dapat membantu sEntra menghadapi tantangan di masa mendatang.