Latihan Militer Gabungan Iran, Rusia, dan China di Selat Hormuz Tantang Hegemoni Barat
Sumber Foto: Mureks
Olahraga

Latihan Militer Gabungan Iran, Rusia, dan China di Selat Hormuz Tantang Hegemoni Barat

Tiga kekuatan global, Iran, Rusia, dan China, memulai latihan angkatan laut gabungan berskala besar bertajuk “Maritime Security Belt 2026” di perairan strategis Selat Hormuz, Teluk Oman, dan Samudra Hindia bagian utara. Manuver ini berlangsung mulai Kamis, 19 Februari 2026, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Teheran dan Washington.

Latihan ini disebut sebagai upaya untuk memperkuat keamanan maritim dan meningkatkan koordinasi antar angkatan laut ketiga negara. Menurut penasihat kepresidenan Rusia, Nikolay Patrushev, manuver gabungan ini merupakan bagian dari upaya kolektif untuk membangun tatanan dunia multipolar di lautan, sebagai respons terhadap apa yang ia sebut sebagai hegemoni Barat yang telah berlangsung lama. Patrushev menambahkan, “Barat mendominasi laut untuk waktu yang lama, hingga awal abad ini, tetapi sekarang hegemoni mereka dalam banyak hal telah menjadi masa lalu.”

Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id

Ketegangan AS-Iran Memanas

Latihan militer trilateral ini digelar di tengah memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Washington telah meningkatkan tekanan terhadap Teheran, mendesak tercapainya kesepakatan terkait program nuklir Iran dengan Presiden Donald Trump. Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan, “Iran akan sangat bijaksana jika membuat kesepakatan dengan Presiden Trump dan dengan pemerintahannya.”

AS juga telah memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah, mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan berpotensi USS Gerald R. Ford ke kawasan tersebut. Presiden Trump bahkan dilaporkan mempertimbangkan opsi militer jika jalur diplomasi menemui jalan buntu. Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) memperingatkan bahwa “setiap perilaku tidak aman dan tidak profesional di dekat pasukan AS, mitra regional, atau kapal komersial meningkatkan risiko tabrakan, eskalasi, dan destabilisasi.”

Selat Hormuz, Titik Krusial Geopolitik

Sebelum latihan gabungan ini, Iran sendiri telah menggelar latihan militer Garda Revolusi bertajuk “Smart Control of the Strait of Hormuz” yang dimulai pada Selasa, 17 Februari 2026. Dalam latihan tersebut, Iran bahkan sempat menutup sebagian Selat Hormuz untuk alasan “keamanan dan keselamatan maritim” dan melakukan uji coba rudal yang berhasil mengenai target di selat tersebut.

Selat Hormuz merupakan jalur air vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Badan Informasi Energi AS (EIA) menyebutnya sebagai “titik penyempitan transit minyak terpenting di dunia,” yang menangani sekitar seperlima hingga seperempat pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global setiap harinya. Lebar selat ini hanya sekitar 33 kilometer pada titik tersempitnya, menjadikannya jalur lalu lintas yang padat dan berisiko tinggi.

Laksamana Muda Hassan Maghsoudloo, juru bicara latihan dari Iran, menegaskan bahwa tujuan utama latihan ini adalah untuk “memperkuat keamanan jalur pelayaran dan mempererat koordinasi angkatan laut yang terlibat.” Ia juga menambahkan bahwa latihan ini bertujuan untuk melawan aktivitas yang mengancam keamanan dan keselamatan maritim, khususnya dalam melindungi kapal komersial dan tanker minyak, serta memerangi terorisme maritim. Kapal korvet kelas Steregushchiy milik Angkatan Laut Rusia, Stoykiy (F545), telah tiba di pangkalan angkatan laut Bandar Abbas, Iran, pada Rabu, 18 Februari 2026, menandai dimulainya partisipasi Rusia dalam latihan ini.

Latihan “Maritime Security Belt” telah menjadi agenda trilateral sejak 2019, diinisiasi oleh Iran setelah Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian nuklir. Ini menunjukkan konvergensi strategis jangka panjang antara negara-negara yang menghadapi tekanan sanksi dan tantangan geopolitik dari Barat.