Sentra Media - Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap manajemen keuangan pribadi meningkat seiring pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61% pada triwulan I 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong peningkatan literasi keuangan nasional melalui Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 dengan target literasi mencapai 67,46%.
Data dari OJK dan BPS menunjukkan peningkatan literasi keuangan meski masih terdapat ketimpangan di berbagai wilayah dan kelompok usia. Survei SNLIK 2026, yang melibatkan BPS, OJK, dan LPS, bertujuan menyediakan data akurat hingga tingkat provinsi untuk mendukung kebijakan inklusi keuangan. Beberapa faktor pendorong literasi keuangan adalah kemudahan akses layanan keuangan digital, kesadaran generasi muda mengenai pentingnya perencanaan keuangan, dan dukungan pemerintah melalui program literasi keuangan nasional.
Di Indonesia tahun 2026, terdapat beberapa praktik manajemen keuangan pribadi yang banyak diterapkan dan direkomendasikan. Perencanaan anggaran yang disiplin dengan metode 50/30/20 yang dimodifikasi dianjurkan, di mana 50% dialokasikan untuk kebutuhan pokok, 20% untuk keinginan, dan 30% untuk tabungan dan investasi. Membangun dana darurat setara 6-12 bulan pengeluaran juga disarankan, dengan penyimpanan di instrumen likuid seperti tabungan atau deposito. Diversifikasi investasi menjadi kunci, termasuk reksa dana, saham, obligasi negara, emas, dan properti. Selain itu, pengelolaan utang yang bijak menjadi penting, dengan prioritas pada pelunasan utang berbunga tinggi dan penggunaan kredit untuk tujuan produktif.