Migrasi dari Sistem Legacy ke Cloud: Kunci Transformasi Digital yang Efisien
Sumber Foto: Liputan6.com
Internasional

Migrasi dari Sistem Legacy ke Cloud: Kunci Transformasi Digital yang Efisien

Liputan6.com, Jakarta - Transformasi digital kini telah menjadi salah satu agenda penting bagi organisasi atau perusahaan di Indonesia. Kendati demikian, penerapan tersebut belum sepenuhnya optimal.

Di tengah adopsi cloud hingga kecerdasan buatan (AI), banyak perusahaan diketahui masih bertahan menggunakan sistem legacy. Menurut Regional Technical Head ManageEngine Indonesia, Hanief Bastian, keputusan itu bukannya tanpa alasan.

Ia menuturkan, keputusan untuk tetap menggunakan sistem legacy itu tidak lepas dari dua faktor utama yakni keandalan sistem tersebut dan biaya migrasi.

"Banyak organisasi masih percaya sistem legacy mereka masih mumpuni," tuturnya dalam wawancara dengan Tekno Liputan6.com, Selasa (19/11/2025) di Jakarta.

Biasanya, sistem itu dianggap stabil dan masih mampu mendukung operasional. Selain itu, migrasi ke platform lebih modern bukan perkara sederhana. Sebab, untuk dapat melakukan migrasi, perusahaan perlu melakukan sejumlah upaya.

Tak hanya waktu, kesiapan SDM, serta risiko transisi, pertimbangan krusial lain adalah biaya investasi yang perlu dilakukan. Hal ini membuat banyak organisasi memilih menunda keputusan tersebut.

Meski sistem legacy masih bisa digunakan, ManageEngine tetap mendorong perusahaan mulai mempertimbangkan solusi berbasis cloud (cloud-based) demi efisiensi jangka panjang.

"Untuk ekspektasi yang lebih affordable ke depannya, kami sarankan memang cloud-based solution. Mereka juga tidak perlu investasi besar dari awal," tutur Hanief menjelaskan.

Dengan model cloud, perusahaan dapat mengurangi capex (capital expenditure), menekan kebutuhan tim operasional, serta memperoleh fleksibilitas infrastruktur yang lebih besar.

Untuk itu, Hanief menyatakan, transformasi digital bukan proses instan. Organisasi tetap perlu melihat digitalisasi sebagai perjalanan panjang yang membutuhkan kesiapan SDM, infrastruktur, dan keamanan.

"Transformasi digital bukan lari sprint, tapi maraton. Semua butuh proses," ujar Hanief.

Akomodasi Sistem Legacy dan Infrastruktur Modern

Meski tetap mendorong pemanfaatan infrastruktur modern, Hanief menuturkan, ManageEngine sebenarnya masih mengakomodasi organisasi yang masih memakai sistem legacy.

Ia menuturkan, ManageEngine tetap dapat memantau sistem lama, sekaligus mendukung adopsi teknologi baru seperti virtualisasi dan cloud.

"ManageEngine masih bisa mengakomodir kedua generasi teknologi tersebut, sehingga ketika perusahaan melakukan migrasi, kami bisa mengurangi downtime," ucapnya menjelaskan.

Kemampuan dual-monitoring ini juga membantu organisasi melakukan migrasi bertahap tanpa mengganggu operasional.

Solusi Keamanan

Tidak hanya itu, dari sisi keamanan, ManageEngine juga menawarkan solusi Data Security Plus. Ini merupakan solusi komprehensif untuk discovery, audit, klasifikasi data, hingga pencegahan kebocoran informasi.

Produk ini menjadi alat penting bagi organisasi yang ingin memastikan perlindungan data secara end-to-end.

"Data Security Plus bisa melakukan discovery terhadap data-data kita, melakukan auditing, melakukan klasifikasi mana data yang rahasia, mana yang tidak, yang kemudian kita bisa prevent," tuturnya lebih lanjut.

Solusi ini juga diklaim membantu perusahaan mematuhi berbagai regulasi soal keamanan data, termasuk di Indonesia.

Infografis 4 Rekomendasi Chatbot AI Terbaik. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)