Migrasi ke Kompor Listrik, Solusi Kurangi Impor LPG hingga 8 Juta Ton
Internasional

Migrasi ke Kompor Listrik, Solusi Kurangi Impor LPG hingga 8 Juta Ton

Sentra Media - Ringkasan Berita:

DPR dorong migrasi ke kompor listrik untuk kurangi impor LPG yang capai ±8 juta ton per tahun.

Kompor induksi dinilai lebih efisien dan bisa hemat biaya rumah tangga serta subsidi energi.

Penggunaan listrik disebut mampu menghemat hingga 30 persen dibanding LPG.

Pasokan listrik nasional dinilai cukup kuat, mendukung kemandirian dan kedaulatan energi.

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Kampanye penggunaan kompor listrik terus digencarkan sebagai langkah menuju kemandirian energi nasional. Peralihan dari LPG ke kompor induksi dinilai mampu mengurangi ketergantungan impor sekaligus menekan beban subsidi negara.

Selain itu, kompor listrik lebih efisien, aman, dan ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi langsung saat digunakan.

Pemerintah dan berbagai pihak mendorong masyarakat mulai beralih secara bertahap, terutama di wilayah dengan pasokan listrik yang stabil.

Edukasi pun dilakukan untuk mengubah kebiasaan memasak serta meningkatkan pemahaman soal manfaat jangka panjangnya.

Dengan dukungan infrastruktur dan kesadaran publik, penggunaan kompor listrik diharapkan menjadi solusi modern yang praktis, hemat, dan berkelanjutan bagi rumah tangga Indonesia.

Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto menegaskan bahwa elektrifikasi rumah tangga melalui migrasi ke kompor induksi merupakan langkah strategis untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang kian membebani anggaran negara.

"Konsumsi LPG kita saat ini mencapai kurang lebih 8 juta metrik ton per tahun, di mana sebagian besar masih dipenuhi melalui impor. Ini adalah beban besar bagi neraca perdagangan kita," ujar Sugeng di Gedung DPR pada Senin (13/4).

Ia menjelaskan, penggunaan kompor induksi lebih efisien dibandingkan kompor gas konvensional. penggunaan listrik untuk memasak dinilai dapat menekan biaya operasional rumah tangga sekaligus mengurangi beban subsidi energi pemerintah.

"Secara efek, penggunaan listrik di sektor rumah tangga, termasuk kompor induksi, akan menghemat sekitar 30 persen jika dibandingkan dengan penggunaan energi fosil seperti LPG subsidi. Tingkat ketergantungan impor akan kita kurangi secara signifikan," tegasnya.

Ia menambahkan, sistem kelistrikan nasional saat ini berada dalam kondisi kuat untuk mendukung migrasi tersebut, dengan pasokan energi primer pembangkit yang terjaga.

"Kita punya pasokan listrik yang andal dari kekuatan domestik. Dengan mengubah energi berbasis impor seperti LPG menjadi energi berbasis listrik, kita tidak hanya menghemat anggaran, tetapi juga memperkuat kedaulatan energi nasional tepat dari dapur masyarakat," pungkasnya.

You can share this post!