Muara Sungai Taipa dan Tawaili, Jalur Vital Migrasi Burung di Teluk Palu
Sumber Foto: Kompas.com
Internasional

Muara Sungai Taipa dan Tawaili, Jalur Vital Migrasi Burung di Teluk Palu

KOMPAS.com - Teluk Palu, Sulawesi Tengah, ternyata menjadi jalur transit burung migrasi, berdasarkan penemuan Yayasan Kompas Peduli Hutan (Komiu). Jalur transit tersebut berada di muara Sungai Taipa dan muara Sungai Tawaili.

"Zona itu kami dapatkan di muara Sungai Taipa dan muara Sungai Tawaili di Teluk Palu sebagai jalur transit burung migrasi," ucap Direktur Yayasan Komiu, Gifvents, dilansir dari Antara, Kamis (1/1/2026).

Baca juga:

Keberadaan burung migrasi menjadi bukti Teluk Palu tidak hanya habitat lokal, tapi juga berfungsi sebagai habitat singgah, wilayah jelajah harian, serta koridor migrasi penting dalam jaringan pergerakan burung dalam skala regional.

Teluk Palu jadi jalur transit burung migrasi

Jenis burung yang ditemukan cukup bervariasi

Komiu mencatat sejumlah burung migrasi yang memanfaatkan Teluk Palu. Jenis tersebut antara lain kuntul karang (Egretta sacra), kuntul kecil (Egretta garzetta), dara-laut kecil (Sternula albifrons), cerek pasir besar (Anarhynchus leschenaultii), cerek tilil (Anarhynchus alexandrinus), gajahan penggala (Numenius phaeopus), serta trinil ekor kerbau (Heteroscelus brevipes).

Kehadiran burung-burung ini tidak terlepas dari keterkaitan antar-habitat di Teluk Palu. Muara sungai, pantai berlumpur, pantai berpasir, dan lahan basah saling melengkapi.

Semua elemen itu membentuk satu kesatuan ekosistem yang menyediakan pakan, tempat beristirahat, dan ruang aman bagi burung migrasi.

Baca juga:

Ancaman kerusakan habitat muara

Gifvents menyampaikan bahwa kerusakan pada satu tipe habitat dapat berdampak besar. Degradasi muara sungai berpotensi memutus rantai migrasi burung air dan burung pantai.

Dampak lanjutan dari kondisi ini adalah menurunnya fungsi ekologis Teluk Palu secara keseluruhan.

Berdasarkan data geoportal ESDM per Desember 2025, sebaran izin pertambangan batuan di Teluk Palu mencapai 109 izin. Rinciannya terdiri dari 56 izin operasi produksi, dua izin eksplorasi, dan 51 wilayah izin usaha pertambangan atau WIUP yang masih bersifat pencadangan.

Reklamasi dan pembangunan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) serta jetty pertambangan batuan di kawasan muara dinilai memberi dampak langsung. Aktivitas ini menyebabkan hilangnya jalur transit burung migrasi di Teluk Palu.

"Reklamasi pembangunan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) atau Jetty pertambangan batuan pada mayoritas muara sungai di Teluk Palu tentu memberi pengaruh langsung pada hilangnya jalur transit burung migrasi," jelas Gifvents.

Muara Taipa dan Tawaili tersisa

Dari peta sebaran izin pertambangan, saat ini hanya muara Sungai Taipa dan Sungai Tawaili yang belum beralih fungsi menjadi TUKS atau jetty.

Kondisi ini membuat kedua muara tersebut menjadi titik krusial bagi keberlangsungan migrasi burung.

Gifvents menilai muara Taipa dan Tawaili perlu dibebaskan dari aktivitas penambangan.

Penetapan kawasan ini sebagai zona larangan tambang atau no mining zone dinilai mendesak. Upaya tersebut perlu diintegrasikan ke dalam tata ruang Kota Palu dan tata ruang Provinsi Sulawesi Tengah.

Baca juga:

Teluk Palu merupakan teluk yang relatif semitertutup. Teluk ini menerima pasokan air dari berbagai aliran sungai.

Kondisi tersebut membentuk zona peralihan muara pesisir yang kaya nutrien, serta sedimen lumpur dan pasir. Wilayah ini dikenal sebagai kawasan yang produktif secara ekologis.

"Secara ekologis, Teluk Palu menjadi penting karena menyediakan kebutuhan burung air dan burung pantai berupa perairan dangkal sebagai tempat untuk mencari makan, serta vegetasi mangrove dan semak pesisir, digunakan sebagai tempat untuk berlindung dan beristirahat," jelas dia.

Fungsi ini menjadikan kawasan muara, termasuk muara Taipa, sebagai lokasi singgah penting. Burung migran dapat memulihkan energi sebelum melanjutkan perjalanan jarak jauh.

Indonesia berada dalam lintasan jalur migrasi burung air Asia-Australia, dan jejaring lahan basah di sepanjang jalur ini diakui sebagai penopang konektivitas migrasi.