Operasional Sentra IKM Sagu di Meranti Terganjal Penilaian Aset dan Pencarian Investor
SELATPANJANG - Operasional UPT Sentra IKM (Industri Kecil dan Menengah) Sagu yang terletak di Sungai Tohor, Kepulauan Meranti, mengalami stagnasi setelah beberapa tahun pembangunan yang didanai oleh pemerintah pusat. Pembangunan sentra ini dimulai pada tahun 2017 dan selesai pada tahun 2019, dengan total biaya mencapai Rp40 miliar yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk sektor industri kecil dan menengah. Sentra tersebut resmi dibuka pada tahun 2021.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kepulauan Meranti, Marwan, mengungkapkan bahwa operasional uji coba sentra tersebut hanya berlangsung selama dua tahun setelah selesai dibangun. "Uji coba dua tahun. Terganjal modal pihak ketiga yang ditunjuk tak sanggup jalan lagi," ujarnya.
Untuk mengatasi permasalahan ini, pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan sedang melakukan upaya percepatan kalkulasi nilai aset IKM Sentra Sagu agar dapat dikelola oleh investor. Marwan menambahkan, "Saat ini kami berencana mencari investor untuk mengelola aset tersebut. Minimal operasional berjalan, masyarakat terbantu, dan mampu menumbang PAD (Pendapatan Asli Daerah). Tapi harus dihitung dulu nilai aset di sana. Saat ini kami masih menunggu penghitungan dari tim appraisal."
Keberadaan sentra ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat yang bergerak di sektor hilir. "Hasil pengelola sagu akan masuk ke sentra. Tepung kering itu kita jual beserta produk turunannya. Ada 16 kilang lokal produksi sagu basah yang akan mensuplai bahan baku ke sentra ini nantinya," kata Marwan.
Menurut Marwan, sebelum sentra ini didirikan, banyak petani dan pemilik kilang sagu lebih memilih menjual sagu basah ke luar negeri, terutama ke Malaysia, karena lokasi Kepulauan Meranti yang strategis. Namun, sagu basah memiliki harga jual yang lebih rendah dibandingkan dengan sagu kering yang memiliki nilai jual lebih tinggi.




