Sentra Media - Pelaku usaha memperkirakan dunia korporasi akan terus menghadapi tantangan hingga akhir 2026, dengan faktor-faktor seperti pelemahan ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, dan tingginya biaya operasional yang mengancam kinerja perusahaan.
Rudi Maulana, Founder Proxsis Group, menyatakan bahwa banyak perusahaan masih berupaya beradaptasi dengan tantangan yang muncul sejak pandemi Covid-19 dan gejolak ekonomi global. Ia menggambarkan situasi saat ini sebagai triple strike, terdiri dari dampak pandemi, konflik geopolitik, dan tekanan ekonomi global.
Rudi memperkirakan tekanan ini akan berlanjut hingga akhir tahun, sehingga perusahaan perlu mempercepat adaptasi melalui inovasi, efisiensi operasional, dan pemanfaatan teknologi digital. Ia menilai saat ini adalah momentum bagi perusahaan untuk melakukan transformasi bisnis agar lebih siap ketika perekonomian membaik pada 2027.
Sementara itu, Ryan Maurice Tallulah, Co-Founder BARDI, menambahkan bahwa kondisi saat ini membuka peluang bagi perusahaan yang mematuhi regulasi. Pengetatan pengawasan terhadap perdagangan digital dan impor menciptakan persaingan yang lebih sehat dengan semua pelaku usaha diharuskan memenuhi ketentuan yang sama. Ia mengingatkan agar pelaku usaha tidak cepat puas dan memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan investasi serta memperkuat pangsa pasar domestik.
Roni Sulistyo Sutrisno, Co-Founder Proxsis & Co, menekankan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) akan menjadi faktor utama penentu daya saing perusahaan ke depan. Ia mendorong setiap organisasi untuk menyiapkan AI Champion yang bertugas mengakselerasi pemanfaatan AI, dengan sasaran bisnis yang jelas dan terukur melalui tingkat pengembalian investasi (ROI). Roni menambahkan bahwa AI kini telah menjadi bagian integral dari ekosistem bisnis yang akan menentukan kemampuan perusahaan dalam berinovasi dan menjaga pertumbuhan di masa depan.