Pelindo Marine Service: Integritas Kunci Kepercayaan dan Reputasi Perusahaan
Sumber Foto: Humas Indonesia
Ekonomi

Pelindo Marine Service: Integritas Kunci Kepercayaan dan Reputasi Perusahaan

Pelindo Marine Service jadikan integritas korporasi sebagai penopang utama menjaga reputasi dan kepercayaan publik.

YOGYAKARTA, HUMASINDONESIA.ID - Kepercayaan publik dinilai sebagai hasil langsung dari perilaku organisasi yang konsisten, bukan sekadar produk kampanye komunikasi. Dalam sektor kepelabuhanan yang sarat kepentingan dan regulasi, trust menjadi jangkar yang menjaga reputasi perusahaan tetap stabil saat menghadapi guncangan.

Manager Corporate Communication PT Pelindo Marine Service Lukman Firmansyah mengatakan, integritas korporasi berfungsi sebagai penopang utama reputasi di tengah krisis kepercayaan publik.

“Trust ini merupakan hasil dari perilaku organisasi. Di era krisis kepercayaan publik seperti sekarang, integritas korporasi sebenarnya berfungsi sebagai jangkarnya reputasi. Tanpa integritas, reputasi hanya akan menjadi kosmetik atau formalitas yang dibuat-buat,” ujar Lukman dalam Special Talkshow MAW Talk Episode 67 yang digelar secara daring, Rabu (28/1/2026).

Menurut dia, kepercayaan tidak lahir dari satu atau dua kampanye besar, melainkan dari akumulasi tindakan nyata yang teruji oleh waktu. Setiap keputusan dan respons perusahaan akan membentuk persepsi publik terhadap karakter organisasi.

Trust sebagai stabilisator reputasi

Lukman menjelaskan, reputasi tanpa kepercayaan hanya akan menjadi lapisan luar yang rapuh. Dalam era arus informasi cepat, kepercayaan berperan sebagai stabilisator yang menjaga reputasi tetap kokoh ketika perusahaan menghadapi isu atau krisis.

Kepercayaan, kata dia, menjadi pengikat antara janji perusahaan dan realitas yang dirasakan mitra bisnis maupun publik. “Tanpa kepercayaan, reputasi hanya formalitas. Ia tidak memiliki daya tahan,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya prinsip walk the talk, yakni kesesuaian antara pernyataan dan praktik di lapangan. Celah kecil antara promosi dan realitas operasional dapat langsung menggerus kredibilitas.

Tantangan merger dan ekosistem multi-stakeholder

Lukman mencontohkan proses merger Pelindo pada 1 Oktober 2021 sebagai ujian besar dalam membangun kepercayaan. Penyatuan empat entitas Pelindo menjadi satu perusahaan dilakukan untuk memperkuat efisiensi logistik dan mendukung program tol laut.

Namun, integrasi tersebut melibatkan beragam aktor dalam ekosistem pelabuhan, mulai dari operator, perusahaan truk, perusahaan pelayaran, pemilik depo, regulator, hingga pemilik barang.

“Pelabuhan ini multi-stakeholder, multi-actor, multi-persepsi. Satu miskomunikasi kecil saja bisa mempengaruhi reputasi perusahaan secara keseluruhan. Humas harus bisa menjembatani kepentingan bisnis dan regulasi yang kompleks,” katanya.

Ia menambahkan, tantangan komunikasi semakin besar di era digital. Unggahan singkat di media sosial dapat memicu krisis reputasi dalam hitungan jam, sementara perusahaan tetap harus berhati-hati agar respons yang diberikan akurat dan tidak melanggar regulasi.

Komitmen ESG dan keberlanjutan maritim

Transformasi pendekatan tanggung jawab sosial dari pola CSR tradisional menuju strategi berbasis ESG (Environmental, Social, and Governance) juga menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan jangka panjang.

Sebagai perusahaan yang beroperasi di wilayah perairan, Pelindo memiliki tanggung jawab terhadap kelestarian ekosistem laut, termasuk melalui program penanaman mangrove dan pelaporan dampak lingkungan secara berkala.

Menurut Lukman, komitmen keberlanjutan bukan lagi kegiatan tambahan, melainkan telah masuk dalam indikator kinerja utama perusahaan. Transparansi pelaporan menjadi bagian dari upaya menjaga legitimasi publik.

Kepercayaan sebagai aset masa depan

Lukman menegaskan, trust merupakan aset tak berwujud yang nilainya tidak tercatat dalam laporan keuangan, tetapi berdampak besar terhadap keberlangsungan bisnis.

“Trust itu aset yang tidak berwujud. Begitu trust hilang, dia sulit dan mahal untuk dipulihkan serta dampaknya bagi perusahaan itu jangka panjang. Karena itu, trust harus dijaga bersama-sama oleh seluruh insan perusahaan,” katanya.

Ia menutup dengan menekankan bahwa menjaga integritas korporasi adalah tugas kolektif. Konsistensi antara ucapan dan tindakan, menurutnya, menjadi kunci untuk mengamankan masa depan perusahaan di tengah persaingan dunia maritim yang semakin kompleks. (Mutia/ARF)