Sentra Media - Pada tanggal 7 Maret, Japan International School (Ha Dong, Hanoi) merayakan ulang tahun ke-10. Wakil Ketua Majelis Nasional Le Minh Hoan hadir dan berbagi pandangannya tentang filosofi pendidikan dalam konteks baru.
Menurut Wakil Ketua Majelis Nasional, jika kita mengibaratkan pendidikan dengan menanam pohon, maka pengetahuan adalah batangnya, keterampilan adalah cabang dan daunnya, dan prestasi adalah bunga dan buahnya. Namun, faktor penentu vitalitas pohon adalah akarnya. Dalam pendidikan, beliau merujuk pada "akar" ini melalui konsep Omoiyari – nilai keindahan dalam budaya Jepang.
Omoiyari bukanlah perintah atau aturan yang kaku, melainkan sebuah kebangkitan dari dalam diri setiap orang. Ini adalah kemampuan untuk merasakan orang lain tanpa mereka harus berbicara; untuk menyesuaikan perilaku seseorang agar tidak menyakiti orang lain; dan untuk memahami bahwa seseorang hanyalah bagian dari dunia, bukan pusat dunia.
Dari situlah, orang-orang mengembangkan kualitas penting: kerendahan hati. “Pohon mungkin tinggi, tetapi jika akarnya dangkal, ia akan tumbang diterpa angin kencang. Seseorang mungkin berbakat, tetapi jika mereka kekurangan Omoiyari, mereka kekurangan kerendahan hati, mereka mungkin berdiri tegak tetapi akan berdiri sendirian,” ujar Wakil Ketua Parlemen.
Selama kunjungannya ke Sekolah Internasional Jepang, Wakil Ketua Majelis Nasional terkesan dengan pemandangan sederhana: para siswa membersihkan ruang kelas mereka, mengatur meja dan kursi mereka, dan menyiapkan makanan mereka sendiri. Ini bukanlah tugas-tugas kecil, tetapi pelajaran penting yang diajarkan melalui pengalaman, bukan hanya melalui kata-kata.
Ketika seorang siswa membersihkan ruang kelas, mereka belajar bahwa ruang bersama adalah tanggung jawab bersama. Ketika mereka membersihkan setelah diri mereka sendiri, mereka memahami bahwa tidak seorang pun dapat memikul tanggung jawab untuk mereka selamanya. Dan ketika mereka belajar untuk memikirkan orang lain, seorang anak menjadi lebih dewasa bukan hanya dalam usia, tetapi juga dalam karakter.
Wakil Ketua Majelis Nasional juga menekankan bahwa di era kecerdasan buatan, mesin dapat menulis, menghitung, atau menganalisis dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, mesin tidak dapat berempati, tidak dapat rendah hati, dan tidak dapat merasakan penyesalan atas penderitaan orang lain.
"Hanya manusia yang memiliki kemampuan itu. Oleh karena itu, pendidikan tidak bisa berhenti pada pelatihan intelektual saja, tetapi juga harus membangkitkan hati," kata Wakil Ketua Majelis Nasional.
Pada upacara tersebut, Profesor Dr. Dao Xuan Hoc – Ketua Dewan Sekolah Internasional Jepang – menyatakan bahwa program pelatihan sekolah tersebut telah diakreditasi oleh organisasi CIS, Kementerian Pendidikan dan Pelatihan, serta sekolah-sekolah mitra di Jepang.
Menurutnya, 100% lulusan SMA sekolah tersebut memiliki IPK rata-rata di atas 8,0. Meskipun baru memiliki tiga angkatan lulusan, para siswa telah diterima di berbagai universitas di Jepang.
Beberapa siswa telah memenangkan Beasiswa Pemerintah Jepang (MEXT) dan beasiswa internasional lainnya. Memasuki dekade kedua perkembangannya, sekolah ini berkomitmen untuk terus berinovasi sambil mempertahankan fokus pendidikan pembentukan karakter dalam konteks kecerdasan buatan dan transformasi digital.
Kepala Sekolah Yamamoto Noriyuki menyatakan bahwa filosofi pendidikan sekolah adalah "Menuju Kebijaksanaan." Menurutnya, fondasi sebuah sekolah dibangun di atas tiga elemen: filosofi pendidikan yang jelas, dedikasi guru dalam mewujudkan filosofi tersebut, dan lingkungan belajar yang mendorong siswa untuk berpikir di luar kotak dan mengambil risiko.
“Filosofi ‘Menuju Kebijaksanaan’ bukan sekadar slogan. Ini adalah proses terus-menerus mengajukan pertanyaan: bagaimana seharusnya orang hidup dan berkontribusi kepada masyarakat, dalam keadaan atau era apa pun?” ujar Bapak Yamamoto Noriyuki.
Pada acara tersebut, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Jepang untuk Vietnam, Ito Naoki, juga sangat mengapresiasi penekanan Japan International School pada pendidikan bahasa asing, khususnya bahasa Jepang dan Inggris.
Menurut Bapak Ito Naoki, penerapan program Cambridge dan perluasan fasilitas pelatihan di Hai Duong menunjukkan bahwa sekolah tersebut secara bertahap meningkatkan kualitas pendidikan secara berkelanjutan.
Duta Besar Jepang juga menyatakan bahwa model pendidikan ala Jepang yang diterapkan di tingkat sekolah dasar dan menengah di Hai Duong merupakan inisiatif yang patut diperhatikan di kawasan ini. Kegiatan ini tidak hanya berkontribusi pada pelatihan sumber daya manusia untuk daerah tersebut, tetapi juga mendorong hubungan kerja sama antara Vietnam dan Jepang. Dalam konteks integrasi internasional yang semakin mendalam, pendidikan bahasa asing dianggap sebagai faktor penting dalam meningkatkan daya saing sumber daya manusia.
Menurut Duta Besar Ito Naoki, penguatan pendidikan bahasa asing akan memungkinkan generasi muda Vietnam untuk bekerja di lingkungan internasional, sehingga memberikan kontribusi positif bagi pembangunan sosial-ekonomi negara.
Sumber: https://giaoducthoidai.vn/pho-chu-tich-quoc-hoi-le-minh-hoan-giao-duc-phai-thap-len-ngon-lua-tri-tue-post769497.html