Pendidikan Jadi Kunci Penanganan Darurat Sampah Nasional
RADARBANDUNG.ID, KOTA BANDUNG – Kondisi darurat sampah menjadi tantangan serius secara nasional, seiring meningkatnya timbulan sampah harian yang mencapai sekitar 142 ribu ton per hari, sementara kemampuan pengelolaan yang layak baru mencakup sekitar 24 persen dari total produksi sampah.
Situasi darurat sampah menjadi perhatian serius pemerintah pusat hingga daerah, mengingat persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan lingkungan dan kualitas hidup generasi mendatang.
Penanganan sampah tidak dapat hanya mengandalkan infrastruktur dan teknologi semata, tetapi harus dibarengi dengan perubahan perilaku masyarakat yang dimulai sejak usia dini melalui jalur pendidikan.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) RI, Fajar Riza Ul Haq menegaskan Presiden Republik Indonesia menaruh harapan besar penguatan gerakan gotong royong menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan sampah nasional.
Fajar mengungkapkan gotong royong merupakan nilai fundamental bangsa yang relevan untuk menjawab tantangan lingkungan saat ini, sekaligus menjadi sarana membangun budaya peduli lingkungan di kalangan anak-anak sekolah.
Fajar menjelaskan melalui gerakan bersama yang melibatkan peserta didik, sekolah dapat menjadi ruang awal pembentukan kebiasaan memilah dan mengelola sampah secara bertanggung jawab, baik sampah organik maupun non-organik.
Fajar menekankan peran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sangat strategis dalam menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini, agar anak-anak tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki kebiasaan nyata dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Selain membangun budaya peduli lingkungan, gerakan gotong royong juga dinilai mampu mendorong lahirnya inovasi dan pengembangan teknologi pengolahan sampah yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter daerah,” ujar Fajar saat melakukan kunjungan kerja di Kota Bandung, Jumat (6/2/2026).
Fajar turut mengapresiasi inisiatif Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung yang menggagas Gerakan Pagar Bersih atau Pelajar Bergerak Bersih-bersih yang dilaksanakan secara rutin setiap Jumat.
Program Pagar Bersih merupakan bagian dari gerakan Jumat Bersih yang digagas Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan dengan melibatkan pelajar sebagai aktor utama dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan sekitarnya.
“Gerakan Pagar Bersih menjadi contoh konkret penerjemahan nilai gotong royong di lingkungan pendidikan dan layak direplikasi oleh daerah lain dengan menyesuaikan kondisi serta kearifan lokal masing-masing,” kata Fajar.
Fajar menambahkan secara nasional gerakan Jumat Bersih sejalan dengan implementasi Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, khususnya kebiasaan bermasyarakat dan peduli terhadap lingkungan sekitar.
Lebih lanjut, Fajar menegaskan pendidikan peduli lingkungan harus diwujudkan dalam kebiasaan sehari-hari, membiasakan memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta membawa tumbler dari rumah untuk menekan sampah kemasan.
Fajar meyakini kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dan disiplin oleh anak-anak akan memberikan dampak besar dalam jangka panjang, sekaligus menjadi fondasi kuat bagi upaya penanganan darurat sampah nasional yang berkelanjutan. (dsn)




