Pendidikan Tinggi Dorong Mobilitas Migrasi Pemuda di Indonesia
Yogyakarta – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Kependudukan mengungkap temuan terbaru mengenai dinamika migrasi internal generasi muda Indonesia. Studi ini menyoroti bagaimana tingkat pendidikan memengaruhi pola dan intensitas migrasi pada usia 15–34 tahun.
Penelitian dilakukan oleh peneliti Pusat Riset Kependudukan, Meirina Ayumi Malamassam di tahun 2025 ini menggunakan data sekunder longitudinal Indonesian Family Life Survey (IFLS) gelombang 1–5. Pendekatan longitudinal memungkinkan peneliti menelusuri riwayat perpindahan individu secara berurutan dalam kerangka life-course approach, yakni melihat migrasi sebagai bagian dari rangkaian transisi pendidikan, pekerjaan, dan pembentukan keluarga.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pemuda Indonesia mengalami 0,86 migrasi antarkabupaten/kota selama usia muda. Sekitar 40 persen pemuda tercatat pernah bermigrasi setidaknya satu kali. Di antara kelompok migran tersebut, mobilitas lanjutan cukup tinggi dengan rata-rata 2,14 kali migrasi. Temuan ini menegaskan bahwa migrasi pada usia muda kerap bersifat berulang, bukan sekadar perpindahan tunggal.
Analisis lebih lanjut menunjukkan adanya educational gradient yang konsisten dalam trajektori migrasi. Individu dengan pendidikan tinggi memiliki kecenderungan lebih besar untuk bermigrasi dan melakukan migrasi berulang dibandingkan mereka yang berpendidikan rendah. Sementara itu, kelompok pendidikan dasar lebih banyak yang tidak pernah bermigrasi.
“Menariknya, kelompok berpendidikan rendah cenderung memulai migrasi pertama pada usia sedikit lebih muda, sedangkan kelompok berpendidikan tinggi menunjukkan kecenderungan mobilitas lanjutan yang lebih kuat pada fase berikutnya,” ujar Ayumi pada Senin, (23/2).
Studi ini juga menemukan adanya positive education selectivity dalam pola onward migration. Individu berpendidikan tinggi lebih mungkin menetap di wilayah baru pada usia 34 dibandingkan kelompok berpendidikan rendah.
Interval antar-migrasi lanjutan relatif singkat, umumnya sekitar tiga tahun atau kurang, yang menunjukkan dinamika mobilitas usia muda berlangsung cukup intensif.
“Temuan ini memperlihatkan bahwa pendidikan berperan penting dalam membentuk trajektori migrasi. Perbedaan tingkat pendidikan berkaitan dengan peluang, waktu transisi kehidupan, serta arah mobilitas antarwilayah,” jelas Ayumi.
Melalui pemanfaatan data sekunder longitudinal dan pendekatan berbasis daur hidup, riset ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara pendidikan dan mobilitas internal. Hasilnya memperkaya literatur migrasi di Indonesia sekaligus menyediakan dasar empiris untuk memahami dinamika pengembangan modal manusia antarwilayah.
BRIN terus mendorong riset kependudukan berbasis bukti guna memperkuat pemahaman tentang transformasi sosial dan mobilitas generasi muda Indonesia. (kf,dk,mr/ed:jml)




