Pengembangan Durian Bawor Meluas di Luar Sentra Aslinya
Sumber Foto: Trubus.id
Sentra Liputan

Pengembangan Durian Bawor Meluas di Luar Sentra Aslinya

Durian bawor, yang berasal dari Banyumas, kini semakin dikenal dan dibudidayakan di berbagai daerah di Indonesia. Nama "bawor" sendiri diambil dari salah satu tokoh Punakawan dalam dunia pewayangan, yang dikenal sebagai sosok jujur dan terbuka.

Menurut Nugroho Samikun, seorang pekebun dari Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, pohon durian bawor tertua ditanam pada tahun 1990 oleh Haji Kromo, sehingga pohon induk tersebut kini berusia 35 tahun. Meskipun dikenal sebagai bawor, durian ini secara resmi merupakan varietas unggul yang dikenal dengan nama Kromo Banyumas. Namun, nama bawor lebih populer di kalangan masyarakat.

Dari segi kualitas, durian bawor telah terbukti unggul. Pada tahun 2004, durian ini memenangkan penghargaan ketahanan pangan, yang semakin mendorong budidayanya. Sejak tahun 2010, banyak pekebun mulai tertarik untuk membudidayakan durian ini, tidak hanya di Banyumas tetapi juga di luar sentra asalnya.

Salah satu pekebun di luar sentra, Krisno Suratman dari Desa Tambakrejo, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, telah berhasil membuktikan bahwa durian bawor dapat tumbuh dengan baik meskipun dalam kondisi lingkungan yang menantang. Meskipun curah hujan yang tinggi dan genangan banjir sempat mengganggu, pohon durian Krisno yang berusia 5 dan 8 tahun mampu menghasilkan buah dengan bobot rata-rata 3-4 kg per buah.

Krisno mengatakan, "Bawor terbukti adaptif dan bandel," menegaskan bahwa durian ini mampu memberikan hasil yang optimal meskipun dalam kondisi yang kurang ideal. Pada musim panen 2022, ia berhasil memanen 15 buah dari pohon berumur 5 tahun dan 34 buah dari pohon berumur 8 tahun.

Pekebun lainnya, Andri Mulya Purnama yang menanam 1.000 pohon bawor di lahan seluas 15 hektare di Kabupaten Serang, Banten, juga melaporkan kualitas buah yang tinggi. Sementara itu, Sadar Subagyo dari Kabupaten Bogor, Jawa Barat, berhasil menumbuhkan 135 pohon bawor di lahan 2 hektare, dengan hasil buah yang manis, creamy, dan daging buah yang tebal.

Harga durian bawor pun bervariasi, dengan Sadar membanderol buah utuh seharga Rp125.000 per kilogram, sementara untuk durian kupasan harganya bisa mencapai Rp300.000 per kilogram. Harga lebih tinggi untuk durian kupasan ini disebabkan oleh proses penyortiran yang dilakukan untuk menjamin cita rasa dan kualitas.

Pengembangan durian bawor di luar sentra ini menunjukkan potensi besar dari varietas lokal yang dapat beradaptasi dengan berbagai iklim dan kondisi tanah di Indonesia. Dengan demikian, durian bawor tidak hanya menjadi kebanggaan wilayah Banyumas, tetapi juga telah menjadi bagian dari budidaya durian di berbagai daerah lainnya.