Pengujian Prototipe ASEAN Technology Management Hub oleh BRIN
Sumber Foto: Medcom.id
Hub Berita

Pengujian Prototipe ASEAN Technology Management Hub oleh BRIN

Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama dengan Committee on Science, Technology, and Innovation (COSTI) Indonesia dan ASEAN Secretariat telah melaksanakan workshop validasi pengalaman pengguna (UX) untuk ASEAN Technology Management Hub (TMH) pada Kamis, 12 Februari 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk menguji prototipe operasional TMH yang telah selesai dikembangkan pada Desember 2025 sebelum diluncurkan secara regional.

Asisten Direktur Divisi Sains dan Teknologi Sekretariat ASEAN, Zurina Moktar, menjelaskan pentingnya proyek ini di tengah pertumbuhan ekonomi ASEAN yang terus didorong oleh inovasi. "Pengeluaran penelitian dan pengembangan (R&D) di kawasan ini tumbuh rata-rata 8,5% per tahun sejak tahun 2000 hingga 2023, mencapai hampir US$60 miliar," ujarnya.

Namun, ia juga menyoroti adanya ketimpangan antara investasi yang dilakukan dan produk yang dihasilkan. "Kendala struktural seperti ekosistem inovasi yang terfragmentasi menjadi tantangan besar. Repositori akademik yang bekerja secara terpisah, data sektor swasta yang tertutup, serta kebijakan pemerintah yang tidak terintegrasi menghambat hilirisasi teknologi ke pasar," imbuhnya.

Menurut Direktur Pengukuran dan Indikator Riset, Teknologi, dan Inovasi BRIN, Khairul Rizal, ASEAN TMH dirancang sebagai pilar ketiga dalam infrastruktur inovasi regional, melengkapi dua infrastruktur yang sudah ada, yakni Regional Research Infrastructure (RRI) dan ASEAN Talent Mobility (ATM). "Infrastruktur dan talenta sangat penting untuk menciptakan sistem inovasi yang kuat, namun teknologi yang dikembangkan juga harus dapat diakses oleh para pemanfaatnya," jelas Khairul.

Workshop ini juga menampilkan presentasi dari Team Leader pengembangan ASEAN TMH dari Terminal Koding Teknologi, Anti Rismayanti, mengenai arsitektur platform yang terdiri dari empat lapisan terintegrasi: User Layer, Validation Layer, Governance Layer, dan Data Layer. Salah satu keunggulan teknis dari platform ini adalah penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mekanisme pencocokan teknologi.

“Algoritma AI akan merekomendasikan teknologi yang relevan bagi pencari teknologi berdasarkan profil dan kebutuhan yang diinput ke dalam sistem. Data layer juga memungkinkan analisis dan wawasan bagi para pembuat kebijakan,” ungkapnya.

TMH berbeda dengan direktori teknologi konvensional karena menerapkan mekanisme validasi bertingkat. Setiap teknologi yang didaftarkan harus melalui proses validasi oleh COSTI di negara masing-masing sebelum dapat diakses publik, untuk memastikan kredibilitas dan kesiapan teknologi di pasar.

Untuk mengatasi hambatan bahasa teknis antarnegara, platform ini juga mengadopsi standarisasi Tingkat Kesiapan Teknologi (Technology Readiness Level/TRL) yang disederhanakan menjadi tiga fase utama: Early Stage (TRL 1-3), Development (TRL 4-6), dan Deployment (TRL 7-9).

Saat ini, fokus dari validasi UX adalah untuk memperbaiki sistem sebelum finalisasi yang dijadwalkan pada akhir Februari 2026. Hasil validasi di Jakarta akan dikonsolidasikan dengan hasil workshop serupa yang dilaksanakan oleh COSTI Kamboja, untuk memastikan bahwa platform ini mampu mengakomodasi kebutuhan beragam ekosistem inovasi di seluruh Asia Tenggara.