Pengunduran Diri Ratusan Guru Sekolah Rakyat: Dampak Terhadap Murid dan Sistem Pendidikan
Sumber Foto: BBC
Sentra Liputan

Pengunduran Diri Ratusan Guru Sekolah Rakyat: Dampak Terhadap Murid dan Sistem Pendidikan

Keputusan sejumlah guru untuk mengundurkan diri dari Sekolah Rakyat, dengan jumlah mencapai 143 orang, mengindikasikan adanya masalah mendasar dalam sistem penempatan yang diterapkan oleh pemerintah. Para pengamat pendidikan menilai bahwa permasalahan ini seharusnya sudah bisa dipelajari dari pengalaman sebelumnya, di mana penempatan tugas guru yang jauh dari domisili menjadi salah satu pemicu pengunduran diri.

Para siswa dari Sekolah Rakyat adalah pihak yang paling terdampak dari pengunduran ini, karena beberapa mata pelajaran tidak dapat diajarkan akibat kekurangan guru. Sejak kegiatan belajar dimulai pada 14 Juli 2025, beberapa sekolah di daerah seperti Sentra Wirajaya Makassar dan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Padang mengalami keterbatasan pengajaran.

Masalah Penempatan Guru

Salah satu contoh nyata dari masalah ini terjadi di Sekolah Rakyat Sentra Wirajaya di Makassar, di mana dua guru asal Jawa mundur karena penempatan yang tidak sesuai harapan. Kepala Sekolah Radiah menjelaskan bahwa harapan awal guru-guru tersebut adalah untuk ditempatkan sesuai domisili mereka, namun kenyataannya berbeda. Akibatnya, sekolah tersebut kekurangan tenaga pengajar untuk mata pelajaran IPS dan Seni Budaya.

Fenomena serupa juga terjadi di BBPPKS Padang, di mana tidak ada guru agama yang mengajar setelah pengunduran dua guru yang ditugaskan. Kepala Sekolah Azizah Batubara menjelaskan bahwa meskipun terdapat guru pengganti yang disiapkan, mereka menolak karena jarak lokasi yang jauh dari domisili.

Sistem Seleksi dan Penempatan

Proses seleksi guru di Sekolah Rakyat dilakukan melalui serangkaian tes, dan para pelamar diharuskan mengonfirmasi kesediaan mereka untuk ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia. Namun, sistem optimalisasi yang diterapkan menyebabkan banyak guru ditempatkan tidak sesuai dengan domisili mereka, mirip dengan pengalaman pengangkatan CPNS sebelumnya. Hal ini berpotensi mengganggu distribusi pendidikan di masa mendatang.

Dampak Terhadap Kualitas Pendidikan

Menurut pengamat pendidikan, Ina Liem, kualitas pendidikan sangat tergantung pada kesiapan dan kualitas guru. Keberadaan Sekolah Rakyat dianggap baik, namun minimnya persiapan dan kajian membuat anak-anak menjadi korban. Ubaid Matraji dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia menilai bahwa pengunduran guru ini dapat berpengaruh pada kualitas pendidikan yang diterima oleh murid.

Proyeksi Masa Depan dan Solusi

Meski pemerintah mengklaim telah menyiapkan 50.000 guru untuk menggantikan yang mundur, pengamat mengingatkan bahwa tidak semua dari mereka bersedia untuk ditempatkan. Oleh karena itu, evaluasi dan pemetaan kebutuhan guru di masing-masing daerah perlu dilakukan untuk memastikan keberlangsungan pendidikan yang berkualitas.

Para pengamat juga menekankan pentingnya transparansi dalam informasi mengenai gaji, tunjangan, dan status kepegawaian. Hal ini penting agar calon guru dapat membuat keputusan yang tepat mengenai penempatan mereka.

Dengan situasi saat ini, nasib murid di Sekolah Rakyat tergantung pada bagaimana pemerintah dan pihak terkait menangani masalah penempatan guru, serta memastikan adanya dukungan yang memadai bagi para pengajar agar proses belajar-mengajar dapat berjalan dengan optimal.