Perajin Keris di Banyusumurup Hadapi Tantangan Kekurangan Bahan Baku
Sumber Foto: Liputan6.com
Sentra Liputan

Perajin Keris di Banyusumurup Hadapi Tantangan Kekurangan Bahan Baku

Di sentra kerajinan keris Banyusumurup, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, para perajin mengalami kesulitan dalam mencari bahan baku untuk pembuatan warangka atau sarung keris. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Koperasi Keris Gandring, Aladin, yang menjelaskan bahwa kayu timoho, sebagai bahan baku utama warangka, sulit didapatkan, bahkan harus mencarinya hingga ke luar provinsi dan luar Pulau Jawa.

Menurut Aladin, bahan baku kayu yang istimewa seperti kayu timoho, cendana wangi, trembalu, dan kayu gading semakin langka. "Bahan baku kayu untuk warangka yang istimewa seperti kayu timoho, cendana wangi, trembalu, dan kayu gading itu mencarinya sulit," ujarnya. Saat ini, banyak perajin di Banyusumurup lebih fokus pada pembuatan aksesori keris seperti warangka, pendok, deder, dan mendak, sementara bilah keris biasanya dipesan dari daerah lain seperti Madura, Gunung Kidul, dan Klaten.

Karena keterbatasan bahan baku istimewa tersebut, perajin mulai beralih ke bahan alternatif seperti kayu jati, sono keling, asam, dan sawo yang masih melimpah di sekitar Banyusumurup. Untuk mengatasi masalah pasokan jangka panjang, Aladin juga menginisiasi penanaman bibit pohon timoho. "Kalau di sini timoho kayunya langka, makanya saya coba nanam empat pohon. Sekarang usianya baru satu tahun," katanya.

Harga warangka yang terbuat dari kayu biasa berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per unit, sedangkan warangka yang terbuat dari kayu cendana atau timoho dapat mencapai Rp800 ribu hingga Rp1 juta per unit, tergantung jenis dan keistimewaan kayu tersebut. Rata-rata omzet per bulan para perajin keris mencapai Rp50 juta, namun dapat berfluktuasi tergantung pada jumlah pesanan. Pada saat sepi, mereka hanya mampu menjual sekitar 5 kodi, namun saat bulan-bulan adat seperti Bulan Suro, permintaan meningkat.

Perajin keris lainnya, Daryanto, juga mengakui kesulitan dalam mendapatkan kayu timoho. Ia menjelaskan bahwa keistimewaan kayu timoho terletak pada lingkar kayu dalam batang pohon yang tidak menentu, yang memberikan karakteristik unik pada motif warangka dan menentukan estetika keris tersebut. Daryanto berharap generasi muda dapat berperan dalam melestarikan industri kerajinan keris yang ada di Banyusumurup.