Perajin Tahu dan Tempe Menggelar Mogok Produksi Akibat Kenaikan Harga Kedelai
Perajin tahu dan tempe di Indonesia menggelar mogok produksi mulai Senin hingga Rabu (21-23 Februari) sebagai respons terhadap tingginya harga kedelai dunia. Aksi ini dilakukan untuk menuntut intervensi pemerintah dalam menstabilkan harga kedelai, yang selama ini menjadi bahan baku utama produksi tahu dan tempe.
Salah satu perajin tempe, Ahmad Saihu, dari Tangerang, Banten, menyatakan kebingungannya dalam menentukan harga jual tempe akibat lonjakan harga kedelai yang mencapai Rp12.000 per kilogram dari sebelumnya Rp9.500 dalam beberapa bulan terakhir. "Bukan kaget lagi. Kacau," ungkap Ahmad, yang turut mengambil bagian dalam aksi mogok tersebut.
Mogok produksi ini telah direncanakan jauh-jauh hari, terutama ketika harga kedelai mulai merangkak ke angka Rp10.000 per kilogram. Ahmad menambahkan, "Kalau sudah sampai Rp11.000, sudah angkat tangan. Kita nyerah!".
Di Jakarta, perajin tahu dan tempe dari Karisma Pangan juga mengalami hal yang sama. Pemiliknya, Abu Ajis Kurniawan, mengaku telah mencoba menyesuaikan ukuran dan harga produk, namun upaya tersebut justru mendapatkan penolakan dari pasar dan mengakibatkan penurunan produksi sekitar 30% hingga 40%.
Pentingnya Subsidi dan Stabilitas Harga
Berdasarkan catatan Pusat Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Puskopti), produksi tahu dan tempe di Indonesia mencapai 250.000 ton per bulan, dengan 70% di antaranya berada di Pulau Jawa. Ketua Puskopti DKI Jakarta, Sutaryo, menyatakan bahwa pemerintah perlu melakukan subsidi untuk menstabilkan harga kedelai, terutama saat daya beli masyarakat menurun. "Jangka pendeknya, kalau harga kedelai tinggi, lalu konsumen daya belinya lemah, maka harus disubsidi," kata Sutaryo.
Masalah ini telah menjadi isu klasik yang berulang sejak tahun 2008, ketika terjadi krisis keuangan dunia yang berdampak pada harga kedelai. Sutaryo mengungkapkan bahwa mogok atau unjuk rasa para perajin tahu dan tempe terjadi hampir setiap dua tahun sekali akibat fluktuasi harga kedelai yang tidak terkontrol.
Ketergantungan pada Impor
Indonesia saat ini sangat tergantung pada impor kedelai, dengan lebih dari 90% kebutuhan kedelai dalam negeri dipenuhi dari luar negeri, terutama dari Amerika Serikat dan Kanada. Hal ini membuat harga kedelai sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga internasional. Menurut data BPS, luas panen kedelai di Indonesia telah menurun hampir setengahnya dari 1 juta hektar pada 1998 menjadi 614.095 hektar pada 2015, karena petani beralih ke komoditas lain yang lebih menguntungkan.
Peluang untuk Petani Kedelai
Di sisi lain, kenaikan harga kedelai global memberikan keuntungan bagi petani. Salah satu petani kedelai di Grobogan, Jawa Tengah, Ali Muktar, mengaku senang dengan kenaikan harga kedelai yang kini berada di kisaran Rp12.000 per kilogram, yang melebihi biaya produksi mereka. "Bagi petani kedelai ya Alhamdulilah, bersujud pada Allah," ungkap Ali.
Ali berharap pemerintah dapat menstabilkan harga kedelai agar baik petani maupun perajin tahu dan tempe dapat merasakan keuntungan. "Yang penting bisa mengangkat harga petani dan bisa membuat perajin ini juga nyaman," tambahnya.
Langkah Pemerintah dan Tantangan ke Depan
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan, mengungkapkan bahwa pemerintah telah berkomunikasi dengan importir untuk mengamankan ketersediaan kedelai. Namun, beberapa pihak menilai langkah tersebut belum cukup konkret untuk menstabilkan harga. Menurut anggota Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sudaryatmo, harga kedelai yang labil bisa berdampak besar pada inflasi karena komponen pangan menyumbang hampir 30% dalam inflasi.
Mantan Menteri Perdagangan, Rahmat Gobel, juga mendorong agar Badan Urusan Logistik (Bulog) kembali berperan dalam stabilisasi harga kedelai dan mengajak kerja sama lintas kementerian untuk mengatasi masalah ini.




