Sentra Media - RRI.CO.ID, Malang - Di bulan Ramadan, orang tua seringkali dihadapkan pada pertanyaan anak-anak yang ingin belajar berpuasa. Ada yang bersemangat meniru, ada pula yang belum kuat menahan lapar. Dalam situasi ini, puasa tidak hanya menjadi ibadah, tetapi juga sarana pendidikan karakter.
Dalam dialog Mutiara Pagi di RRI Malang dengan tema “Apakah Puasa Bisa Menjadikan Orang Sabar” Minggu (1/3/2026) pagi, bersama Ustazah Supraptiningsih, S.Ag., M.Pd. beliau menjelaskan bahwa anak-anak usia TK dan SD dapat dilatih berpuasa secara bertahap. “Boleh puasa setengah hari sampai zuhur. Tapi jangan dipaksa, karena mereka belum terkena kewajiban syariat,” jelasnya.
Beliau menambahkan bahwa puasa adalah latihan panjang membentuk karakter sabar. Persiapan ideal bahkan dimulai sejak Rajab dan Sya’ban agar saat Ramadhan, kebiasaan baik sudah mulai tertanam. “Puasa itu ajang pembiasaan. Kalau dilatih terus, sabar akan menjadi karakter,” katanya.
Menjawab pertanyaan pendengar tentang orang yang tetap pemarah saat puasa, Ustazah Suprapti menilai hal itu terjadi karena puasa belum menyentuh hakikat spiritual. “Kalau hanya menahan lapar tanpa menahan emosi, itu belum puasa yang sesungguhnya,” tegasnya.
Beliau juga menekankan bahwa puasa tidak menghapus kewajiban sosial. Tuan rumah tetap harus memuliakan tamu, termasuk non-muslim, meskipun sedang berpuasa. “Akhlak tetap nomor satu. Puasa tidak boleh menjadi alasan untuk bersikap tidak ramah,” ujarnya.
Untuk mengatasi sifat sensitif saat lapar, ia menyarankan memperbanyak zikir, mengambil air wudhu, atau segera shalat ketika hati mulai gelisah. “Sadarilah bahwa puasa adalah latihan pengendalian diri. Kalau berhasil, bukan hanya pahala yang didapat, tetapi juga pribadi yang lebih matang,” tutupnya.