Sentra Media - JURNAL ARTIKEL: "MENDEFINISIKAN ULANG MELANESIA: Tinjauan Kritis Interdisipliner atas Batas Kebudayaan, Teori Migrasi, dan Epistemologi Pribumi"
Ferdinandus Nauw*
ABSTRAK
Konsep Melanesia selama ini dibentuk oleh kerangka antropologi kolonial, klasifikasi linguistik, serta konstruksi geopolitik modern yang cenderung menyederhanakan kompleksitas kawasan tersebut. Artikel ini bertujuan untuk merekonstruksi pemahaman tentang Melanesia melalui pendekatan interdisipliner yang mengintegrasikan antropologi, linguistik, arkeologi, dan genetika populasi, sekaligus mengkritisi batasan-batasan epistemologis dari teori-teori dominan dalam kajian global.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis kritis terhadap literatur ilmiah serta pendekatan komparatif lintas disiplin. Selain itu, artikel ini juga mengadopsi perspektif epistemologi pribumi dengan merujuk pada pemikiran Ibrahim Peyon, Ph.D., yang mengusulkan pembagian Melanesia ke dalam 26 wilayah kebudayaan berdasarkan sepuluh kriteria interdisipliner.
Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan wilayah kebudayaan konvensional tidak mampu sepenuhnya menjelaskan kompleksitas Melanesia yang ditandai oleh keragaman linguistik ekstrem, dinamika sosial yang tinggi, serta sejarah migrasi yang tidak linear. Temuan genetika modern, khususnya terkait admixture Denisovan, mengindikasikan bahwa populasi Melanesia memiliki sejarah evolusi yang unik dan tidak dapat direduksi ke dalam model migrasi global yang bersifat linear seperti Out of Africa atau model Birdsell.
Lebih lanjut, artikel ini mengkritisi konstruksi "Melanesia Indonesia (MELINDO)" sebagai representasi identitas yang lebih bersifat politis daripada ilmiah, karena tidak sepenuhnya didukung oleh bukti interdisipliner. Sebagai alternatif, model yang dikembangkan oleh Ibrahim Peyon menawarkan kerangka analisis yang lebih kontekstual dengan menempatkan Melanesia sebagai entitas kebudayaan yang melampaui batas-batas negara modern.
Secara teoretis, artikel ini menegaskan pentingnya reposisi Melanesia dari objek kajian menjadi subjek dalam produksi pengetahuan global. Pendekatan dekolonial yang diusulkan membuka ruang bagi pengakuan terhadap epistemologi pribumi sebagai bagian integral dari ilmu pengetahuan, sekaligus menantang dominasi paradigma Barat dalam memahami kawasan ini.