Relokasi Pedagang Kaki Lima di Malioboro: Suara Warga dan Pedagang
Sumber Foto: Mojok.co
Sentra Liputan

Relokasi Pedagang Kaki Lima di Malioboro: Suara Warga dan Pedagang

Relokasi pedagang kaki lima (PKL) di Malioboro telah dimulai dan akan dilaksanakan secara bertahap hingga bulan depan. Seluruh PKL yang beroperasi di sepanjang jalan tersebut akan dipindahkan ke lokasi-lokasi yang telah disediakan oleh pemerintah daerah. Pada hari pertama relokasi, dilaksanakan acara peresmian Teras Malioboro, salah satu lokasi relokasi, yang dihadiri oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Peresmian Teras Malioboro

Acara peresmian Teras Malioboro berlangsung di lokasi bekas Bioskop Indra, yang kini telah direnovasi menjadi gedung modern berlantai tiga. Dalam sambutannya, Sultan menyatakan pentingnya pengaturan PKL untuk menjaga keindahan Malioboro, terutama menjelang kedatangan UNESCO untuk verifikasi status warisan budaya. "Kalau (PKL Malioboro) tidak diatur, saya ikut melanggar karena sebagian bukan aset pemda," ujarnya. Pihak pemerintah berharap relokasi ini tidak mengurangi daya tarik Malioboro sebagai destinasi wisata.

Suara Warga dan Pedagang

Di sekeliling lokasi relokasi, beberapa warga dan pedagang memberikan pendapat tentang pengalihan ini. Mujiran, seorang kusir andong berusia 71 tahun, mengaku khawatir pendapatannya akan berkurang akibat relokasi ini. "Kalau saya terserah pemerintah. Mboten ngefek," ungkapnya, meskipun ia merasakan sepinya pengunjung akibat perubahan tersebut.

Beberapa pemilik toko di Malioboro juga enggan memberikan pendapat mengenai relokasi PKL. Mereka mengakui bahwa keberadaan PKL tidak terlalu menjadi masalah selama mereka mematuhi aturan yang ada. Namun, mereka berharap agar kebersihan dan ketertiban tetap dijaga, mengingat seringkali PKL melanggar ketentuan yang ada.

Harapan dan Kekhawatiran PKL

Pada hari yang sama, puluhan PKL menggelar unjuk rasa di depan gedung DPRD DIY, menuntut penundaan relokasi. Mereka menginginkan agar pemerintah memberikan jaminan untuk keberlangsungan ekonomi mereka pasca relokasi. Sogi Wartono, seorang PKL berusia 64 tahun, menyatakan, "Relokasi sebaiknya ditunda. Pemerintah bisa memperbaiki lapak kami dulu biar layak."

Persiapan Relokasi

Pemerintah Daerah Yogyakarta telah menyiapkan dua lokasi relokasi, yaitu Teras Malioboro 1 dan Teras Malioboro 2, dengan kapasitas total sekitar 1.800 PKL. Meskipun relokasi telah ditetapkan, banyak PKL yang berharap agar proses ini dilakukan dengan memperhatikan kondisi mereka agar tidak merugikan perekonomian mereka.

Relokasi PKL di Malioboro merupakan langkah besar yang diambil oleh pemerintah untuk menata kawasan tersebut, namun tantangan dan harapan dari warga dan pedagang tetap menjadi bagian penting dalam proses ini.