Risiko Keamanan Finansial: Pentingnya Melindungi Data Pribadi di Lingkungan Terdekat
Sumber Foto: Marketeers
Lifestyle

Risiko Keamanan Finansial: Pentingnya Melindungi Data Pribadi di Lingkungan Terdekat

Tren penipuan digital semakin berkembang dan kini tidak lagi hanya datang dari pihak asing. Penyalahgunaan data keuangan mulai banyak terjadi dalam lingkup terdekat seperti keluarga, teman, hingga pasangan. Fenomena ini memunculkan persoalan baru dalam pengelolaan keuangan pribadi, karena ancaman terhadap skor kredit dapat datang dari orang yang dikenal baik.

Kasus marak terjadi ketika seseorang diminta memberikan data seperti KTP, kode OTP, hingga akses akun paylater atau mobile banking. Permintaan tersebut sering muncul dengan dalih mendesak atau meminta pertolongan.

Namun, ketika tagihan macet atau tidak dibayar, pemilik identitaslah yang menanggung akibat. Rekam jejak kredit tercatat buruk dan dapat menghambat pengajuan pembiayaan di masa depan seperti KPR maupun kredit kendaraan.

Otoritas Jasa Keuangan menyoroti meningkatnya kejahatan finansial dan telah meluncurkan kampanye nasional untuk memberantas scam dan aktivitas ilegal. Edukasi mengenai perlindungan data menjadi salah satu fokus yang terus diperkuat, karena banyak korban penipuan mengalami kerugian akibat minimnya kesadaran terhadap pentingnya menjaga akses finansial pribadi.

Di tengah situasi itu, platform pemantauan skor kredit seperti SkorKu mengambil peran dalam membantu masyarakat memahami risiko berbagi data pribadi. Aplikasi ini memungkinkan pengguna memantau skor kredit secara berkala, mendeteksi aktivitas kredit mencurigakan yang mungkin terjadi atas nama mereka, dan memberikan edukasi tentang cara mengamankan identitas finansial.

Head of Consumer Business CBI, Nora Asteria, menekankan bahwa keamanan finansial bukan hanya soal memproteksi data digital, tetapi juga menyangkut hubungan personal. “Keamanan finansial hari ini membuka diskusi yang lebih luas tentang batas antara kepercayaan personal dan tanggung jawab individu,” ujarnya dalam siaran persnya kepada Marketeers, Jumat (28/11/2025).

Ia menjelaskan bahwa pelaku penipuan kerap memanfaatkan emosi seperti rasa takut, panik, kasihan, atau iming-iming hadiah, sehingga korban mudah memberikan akses ke informasi penting.

Nora menambahkan bahwa banyak orang tidak menyadari bahwa meminjamkan ponsel, akun, atau kartu identitas sama saja dengan memberikan akses langsung ke reputasi finansial mereka. Jika penyalahgunaan terjadi, pemilik data yang akan menanggung risiko finansial dan hukum. Karena itu, literasi keuangan harus mencakup pemahaman batas privasi bahkan dalam lingkungan keluarga atau pertemanan.

SkorKu menilai bahwa menjaga skor kredit bukan hanya tentang membayar tagihan tepat waktu, tetapi juga memastikan akses terhadap data finansial tetap berada di tangan pemilik sah. Identitas digital kini menjadi aset berharga yang berpengaruh terhadap masa depan seseorang, terutama saat mengajukan pembiayaan untuk kebutuhan besar.