Rocky Gerung Kritik Pemalsuan Ijazah dalam Forum Pendidikan Yogyakarta
RUBLIK DEPOK - Polemik seputar keaslian ijazah yang sempat menjadi sorotan nasional kembali mendapat sindiran tajam dari pengamat politik dan filsuf Rocky Gerung. Dalam acara Public Lecture Series 002 yang digelar di Embung Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (16 Februari 2026), Rocky mengkritik kondisi pendidikan di Indonesia yang menurutnya masih terjebak dalam pola feodalisme dan korupsi, berbeda jauh dengan semangat solidaritas pasca-Revolusi Prancis. Ia secara eksplisit menyindir maraknya isu pemalsuan ijazah dengan mengubah motto pendidikan nasional "Tut Wuri Handayani" menjadi "Tut Wuri Malsuin Ijazah", yang berarti mengikuti dari belakang dengan memalsukan ijazah. Sindiran ini disampaikan di hadapan ratusan peserta yang hadir, menciptakan suasana diskusi yang hangat sekaligus kritis terhadap integritas sistem pendidikan tanah air.
Rocky Gerung membandingkan fondasi pendidikan di Prancis yang lahir dari revolusi rakyat, di mana kekuasaan absolut raja digantikan oleh nilai-nilai kemanusiaan, dengan realitas Indonesia yang masih bergulat dengan praktik-praktik tidak sehat di dunia akademik. Menurutnya, Indonesia justru mengalami surplus ijazah tetapi defisit nilai moral dan integritas. "Di Indonesia, yang terjadi bukan Ing Ngarso Sung Tulodo, tapi Ing Ngarso Sung Korupsi. Bukan Tut Wuri Handayani, tapi Tut Wuri Malsuin Ijazah," sindir Rocky Gerung tegas, sebagaimana dikutip dari berbagai laporan media pada Senin (16 Februari 2026). Pernyataan ini langsung menjadi perbincangan hangat, mengingat konteks polemik ijazah yang melibatkan tokoh publik dan masih bergulir di ranah hukum.
Acara tersebut diselenggarakan oleh Pandu Negeri dan dihadiri oleh berbagai kalangan intelektual muda serta tokoh masyarakat Yogyakarta. Rocky tidak hanya berhenti pada sindiran tersebut, melainkan juga menyoroti ironi di mana lulusan doktor justru menjadi pengemudi ojek online karena negara lebih dikuasai oleh "dealer" daripada "leader" yang visioner. Kritik ini memperkaya diskusi tentang krisis hak generasi muda, di mana pendidikan seharusnya menjadi alat emansipasi, bukan sekadar produksi gelar tanpa substansi.
Sindiran Tajam di Tengah Forum Pendidikan Yogyakarta
Forum Public Lecture Series 002 di Embung Giwangan menjadi panggung bagi Rocky Gerung untuk menyampaikan pandangannya secara mendalam. Lokasi yang asri dan terbuka itu memungkinkan diskusi berlangsung interaktif, dengan peserta yang antusias menyimak setiap kata-katanya. Rocky memulai dengan sejarah pendidikan Prancis pasca-Revolusi, di mana pemenggalan kepala Raja Louis XVI menjadi simbol peralihan kekuasaan ke tangan rakyat, menciptakan sistem pendidikan yang berbasis solidaritas manusiawi.
Dalam konteks Indonesia, ia menekankan bahwa motto Ki Hajar Dewantara "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani" telah terdistorsi oleh praktik korupsi dan pemalsuan. "Tut Wuri Malsuin Ijazah" menjadi ungkapan satir yang langsung mengarah pada polemik ijazah yang belakangan ramai diperbincangkan, termasuk kasus yang melibatkan mantan Presiden Joko Widodo. Rocky Gerung menegaskan bahwa masalah ini bukan sekadar isu individu, melainkan cerminan krisis sistemik di sektor pendidikan nasional.
Selain itu, Rocky juga menyentil fenomena "surplus ijazah tapi defisit value", di mana banyak lulusan bergelar tinggi kesulitan mendapatkan pekerjaan layak. Ia menyebut negara dikuasai oleh "dealer" yang lebih mementingkan transaksi daripada kepemimpinan visioner. Pernyataan ini, yang disampaikan pada Senin (16 Februari 2026), semakin memperkuat citra Rocky sebagai pengkritik tajam yang tidak ragu menyentuh isu sensitif.
Konteks Polemik Ijazah yang Masih Bergulir
Polemik ijazah yang disindir Rocky Gerung tidak muncul dari kekosongan. Isu ini sempat memanas dengan tudingan pemalsuan terhadap ijazah mantan Presiden Joko Widodo, yang melibatkan sejumlah tokoh seperti Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Dokter Tifa sebagai tersangka pencemaran nama baik dan penyebaran hoaks. Jokowi sendiri telah memberikan keterangan tambahan di Polresta Solo pada Rabu (11 Februari 2026), di mana ia diperiksa selama sekitar 2,5 jam dan menjawab 10 pertanyaan dari penyidik Polda Metro Jaya.
Proses hukum ini masih berlanjut, dengan pihak kepolisian terus mengumpulkan bukti meski berkas telah dilimpahkan. Beberapa pihak, termasuk kuasa hukum tersangka, mempertanyakan kelanjutan pemeriksaan terhadap Jokowi setelah proses sebelumnya. Sementara itu, Dokter Tifa sempat mengklaim adanya enam spesimen ijazah yang dikeluarkan untuk meyakinkan publik, yang ia sebut sebagai "ilusi transparansi", sebagaimana disampaikan pada Senin (16 Februari 2026).
Sindiran Rocky Gerung datang di tengah situasi ini, menjadikannya sebagai komentar kritis terhadap integritas pendidikan secara luas. Ia tidak secara langsung menyebut nama individu tertentu dalam kutipan utama, tetapi konteksnya jelas merujuk pada maraknya isu pemalsuan ijazah di kalangan publik.




