Satu Tahun Prabowo-Gibran: Transformasi Pendidikan Berbasis Karakter dan Digital
Jakarta, InfoPublik — Memasuki satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan lompatan signifikan dalam pembenahan ekosistem pendidikan nasional. Fokusnya bukan lagi pada pembangunan fisik semata, tetapi pada revolusi karakter, profesionalisme guru, dan digitalisasi pembelajaran.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyatakan bahwa program pendidikan ke depan diarahkan untuk menyiapkan generasi Indonesia emas yang cerdas, tangguh, dan bahagia.
“Pendidikan kita harus humanis dan menggembirakan. Bukan hanya humanis dan humoris, tapi sungguh-sungguh membahagiakan murid dan guru,” tegas Mu’ti dalam acara Taklimat Media guna menyosialisasikan berbagai capaian program Kemendikdasmen, di Plaza Insan Berprestasi, Rabu (22/10/2025).
Tahun ini, Kemendikdasmen telah melatih 211.844 guru di 65.300 sekolah dalam program pembelajaran mendalam berbasis coding, kecerdasan artifisial, dan literasi digital. Materi pembelajaran mencakup berpikir komputasional, etika kecerdasan buatan, dan pemrograman sejak jenjang SD hingga SMA.
Sebagai tindak lanjut, telah tersedia 2.915 fasilitator nasional yang melatih 62.898 guru di 53.598 sekolah di seluruh Indonesia. “Kita siapkan guru yang tidak sekadar mengajar, tapi mampu mengembangkan keterampilan abad ke-21 yang relevan dengan industri 4.0 dan masyarakat 5.0,” ujar Mu’ti.
Mulai 2025, seluruh guru akan mendapatkan penyederhanaan sistem pengelolaan kinerja. Tugas tambahan guru, seperti menjadi wali kelas, akan diekuivalensikan dengan kewajiban mengajar 24 jam per minggu.
“Kami sedang menyiapkan peraturan menteri tentang penghitungan dan konversi tugas di luar jam mengajar agar lebih adil,” jelasnya.
Selain itu, Kemendikdasmen bersama KemenPAN-RB tengah menyiapkan jabatan fungsional baru bagi tenaga pendidik: pengawas, pengembang pembelajaran (bangom), dan penilai. Dengan demikian, guru tak lagi sekadar pendamping, tetapi pendidik profesional dengan peran akademik yang diakui.
Dalam memperkuat karakter siswa, Kemendikdasmen meluncurkan Tujuh Kebiasaan Sahabat Adilnya — pendekatan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai kebajikan dan kegembiraan.
Salah satu inovasi yang populer di sekolah adalah Program Pagi Ceria, yang berisi tiga kegiatan: menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa bersama, dan kegiatan anak sahabat. Selain itu, ada juga “Jeda Ceria” atau “Senak Kotak” — sesi refleksi singkat yang membantu murid beristirahat dari rutinitas akademik dengan kegiatan positif.
“Pendidikan harus menumbuhkan semangat belajar, bukan tekanan. Anak-anak perlu bahagia di sekolah,” kata Mu’ti.
Kemendikdasmen juga tengah menata ulang kegiatan ekstrakurikuler agar lebih relevan. Salah satunya adalah Pramuka Pasif, yang difokuskan pada pendidikan karakter dan kepemimpinan tanpa beban administratif berat. Kebijakan ini disiapkan melalui Peraturan Menteri baru tentang Pramuka dan kegiatan kesiswaan.
Mulai 2026, pemerintah akan meluncurkan Program Wajib Belajar 13 Tahun, hasil kolaborasi antara Kemendikdasmen dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Program ini memperluas bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) hingga ke jenjang taman kanak-kanak (TK) agar seluruh anak usia dini mendapat akses pendidikan dasar.
“Kita ingin tidak ada anak yang tertinggal dari PAUD hingga SMA. Semua berhak atas pendidikan bermutu,” tegas Mu’ti.
Untuk memperkuat pendidikan seni dan literasi, Kemendikdasmen meluncurkan album “Kicau Anak Indonesia”, kompilasi lagu anak hasil karya guru TK. Tiga album sudah beredar dan mulai digunakan di sekolah-sekolah sebagai sarana ekspresi positif anak.
Sementara itu, di tingkat global, Bahasa Indonesia kini menjadi bahasa resmi di forum UNESCO. Menteri Mu’ti dijadwalkan berpidato menggunakan Bahasa Indonesia dalam Sidang UNESCO bulan November 2025, sekaligus mempromosikan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang kini telah hadir di 57 negara, termasuk Universitas Al-Azhar Kairo dengan lebih dari 300 mahasiswa.
Kemendikdasmen juga memperkenalkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) pertama bagi siswa SMA/SMK/MA yang akan digelar 3–9 November 2025. Sebanyak 3,5 juta pelajar telah mendaftar secara sukarela.
“TKA ini inklusif dan ramah bagi siswa berkebutuhan khusus. Kami sebut TKA Jujur Gembira — tanpa nyontek, tanpa tekanan,” ujar Mu’ti.
Menutup paparannya, Mu’ti menyampaikan terima kasih kepada seluruh jajaran Kemendikdasmen, guru, ASN, dan tenaga honorer di seluruh Indonesia atas kerja keras selama tahun pertama pemerintahan Kabinet Merah Putih.
“Capaian tahun pertama ini adalah landasan untuk bekerja lebih baik lagi menuju 2029. Banyak yang sudah kita capai, tapi masih lebih banyak yang ingin kita sempurnakan,” pungkasnya.




