Sentra Pigura Sagan: Mengukir Kenangan di Jalan Colombo dengan Harapan Ramadan
Sentra Pigura Sagan, yang terletak di Jalan Colombo, Sagan, Caturtunggal, Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, telah menjadi tempat yang ramai dikunjungi sejak 1989. Menariknya, lokasi ini berdiri di atas bekas tanah pemakaman Tionghoa, yang dulunya dianggap sebagai daerah angker. Kini, sentra ini tidak hanya menjual pigura, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan ekonomi lokal.
Pada siang hari yang panas, seorang perajin pigura bernama Diki (37) terlihat fokus memotong kayu untuk membuat kerangka pigura. Sejak enam tahun lalu, Diki terjun ke dunia pembuatan pigura setelah belajar dari seorang teman. Ia menjelaskan bahwa proses pembuatan pigura bisa bervariasi tergantung dari jenis bahan yang digunakan. Pigura berbahan fiber lebih cepat dibuat dibanding yang berbahan kayu, yang memerlukan waktu 1-3 hari.
Sejarah dan Perkembangan
Ketua Paguyuban Sentra Pigura Sagan, Bambang Ridwan (50), menyampaikan bahwa lapak-lapak ini sudah ada sejak tahun 1989. Awalnya, kawasan ini merupakan kompleks pemakaman Tionghoa yang sepi dan jarang dilalui orang. Dengan berjalannya waktu, warga Desa Sagan mulai membuka lapak di daerah tersebut, yang kini berjumlah 31 lapak.
Seiring perkembangan, lapak-lapak tersebut mulai ramai dan kini menjadi tempat tidak hanya untuk menjual pigura, tetapi juga untuk berbagai usaha lainnya seperti penjualan majalah dan makanan. Tannas (34), salah satu perajin, menceritakan bagaimana usaha keluarganya beralih dari toko kelontong menjadi penjualan pigura seiring dengan kehadiran SPBU Colombo.
Penertiban dan Kebangkitan
Pada tahun 2016, lapak-lapak tersebut sempat ditertibkan dan harus pindah ke lokasi yang lebih teratur. Pihak Universitas Gadjah Mada mengizinkan mereka untuk kembali berjualan, dengan syarat bahwa hanya warga Desa Sagan yang boleh berjualan di sana. Kini, para perajin membayar sewa sebesar Rp3,1 juta per tahun untuk lapak mereka.
Ramadan dan Permintaan yang Meningkat
Menjelang Ramadan dan Lebaran, sentra ini mengalami lonjakan permintaan. Banyak pembeli yang mencari pigura untuk menghiasi rumah mereka dengan lukisan masjid dan kaligrafi. Bambang menjelaskan bahwa mereka juga sering menerima pesanan dari instansi yang ingin memajang foto presiden dalam pigura.
Tantangan dan Kesempatan
Walaupun sentra ini berkembang, para perajin masih menghadapi tantangan, terutama saat pandemi Covid-19 yang menyebabkan penurunan omzet hingga 50%. Namun, mereka bersyukur atas dukungan pemerintah yang memberikan pelatihan dan bantuan alat untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Dalam hal harga, Tannas menyebutkan bahwa harga pigura cenderung turun meskipun biaya bahan baku semakin mahal. Penurunan harga ini disebabkan oleh banyaknya perajin yang menetapkan harga lebih rendah, yang mengakibatkan persaingan yang ketat.
Kesimpulan
Sentra Pigura Sagan tidak hanya berfungsi sebagai pusat pembuatan pigura, tetapi juga sebagai simbol ketahanan dan kreativitas masyarakat lokal. Dengan harapan untuk semakin ramai di masa depan, para perajin berharap agar sentra ini dapat terus berkembang dan menjadi daya tarik wisata bagi pengunjung yang datang ke Yogyakarta.
Sentra ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga 21.00 WIB, menawarkan berbagai pilihan pigura dengan harga yang bersaing, menjadikannya pilihan menarik bagi para pengunjung.




