Sentra Media - Setelah menikmati pertumbuhan penduduk sosial yang positif selama dua tahun, Taiwan kini menghadapi pembalikan tren yang mengkhawatirkan. Data terbaru menunjukkan bahwa sepanjang tahun lalu, neraca mobilitas penduduk berbalik menjadi negatif, dengan faktor utama adalah lonjakan drastis jumlah warga yang memilih untuk pindah dan menetap di luar negeri.
Analisis tren satu dekade terakhir menunjukkan bahwa sebelum pandemi, mobilitas penduduk internasional Taiwan relatif stabil. Namun, pandemi COVID-19 mengubah peta demografi secara signifikan. Pembatasan perbatasan pada awalnya menekan angka imigrasi dan emigrasi, tetapi setelah pelonggaran, terjadi lonjakan arus masuk yang bersifat sementara pada tahun 2023 sebagai akibat dari mobilitas yang tertahan.
Sayangnya, efek arus balik pascapandemi ini tidak bertahan lama. Pada tahun 2025, jumlah imigran yang masuk kembali menyusut ke level prapandemi. Pada saat yang sama, jumlah warga yang pindah ke luar negeri justru melonjak tajam hingga 161% dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 64.000 orang.
Pukulan ganda dari menurunnya jumlah pendatang dan meroketnya jumlah warga yang pergi ini menghasilkan migrasi neto internasional yang minus hingga 25.000 orang. Angka ini menjadi penekan utama yang menyeret pertumbuhan penduduk sosial Taiwan secara keseluruhan kembali ke zona negatif, sebuah sinyal waspada yang menuntut perhatian serius terhadap faktor-faktor pendorong di baliknya.