Tenun Lurik Kurnia: Merawat Warisan Budaya Selama Tiga Generasi
Sumber Foto: Mojok.co
Sentra Liputan

Tenun Lurik Kurnia: Merawat Warisan Budaya Selama Tiga Generasi

Tenun Lurik Kurnia, yang berdiri sejak tahun 1962, merupakan salah satu usaha kain lurik tertua di Yogyakarta. Terletak di Krapyak Wetan, Kabupaten Bantul, usaha ini masih menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) dan telah melewati enam dekade perjalanan dalam mempertahankan tradisi tenun lurik yang sudah ada selama 3.000 tahun.

Kata "lurik" berasal dari Bahasa Jawa, yang berarti garis-garis. Kain lurik terkenal dengan motif sederhana yang terdiri dari garis horizontal atau vertikal. Sejarah tenun lurik dapat ditelusuri hingga ke zaman Candi Borobudur dan terdapat dalam cerita wayang tertua, Wayang Beber.

Sejarah dan Perkembangan Tenun Lurik Kurnia

Dibyo Sumarto, pendiri Tenun Lurik Kurnia, memulai usaha ini setelah bekerja sebagai buruh tenun di pabrik Danunegaran. Bersama istrinya, Sutidjah, mereka membagi tugas dalam proses penenunan dan penjualan. Meskipun menghadapi tantangan dalam menjual kain tenun lurik, mereka tetap berjuang demi mempertahankan cinta mereka terhadap kain ini.

Generasi kedua, yang dipimpin oleh cucu Dibyo, Afrian Irfani atau Rian, kini melanjutkan usaha tersebut. Rian berkomitmen untuk melestarikan warisan budaya ini meskipun banyak anak muda lebih memilih pekerjaan di bidang lain. Ia juga memberikan pelatihan menenun gratis kepada warga lokal, meskipun hanya sedikit yang tertarik untuk melanjutkan tradisi ini.

Proses Produksi Kain Lurik

Proses pembuatan kain lurik melibatkan beberapa tahap, mulai dari pewarnaan benang, pemintalan, hingga penenunan. Tenun Lurik Kurnia mempekerjakan sekitar 25 penenun, dengan total pegawai mencapai 50 orang. Pekerja di sini berstatus buruh harian lepas, dan Rian memberikan insentif bagi mereka yang mampu menghasilkan lebih banyak kain dalam waktu seminggu.

Setiap penenun memiliki karakteristik yang berbeda dalam menciptakan kain lurik. Rian juga berupaya mempermudah komunikasi dengan para pekerja, terutama yang berusia lanjut, dengan memberikan tugas sesuai kemampuan mereka.

Inovasi dan Tantangan di Era Modern

Tenun Lurik Kurnia mampu memproduksi antara 2.500 hingga 3.000 meter kain setiap bulannya. Meskipun mengalami penurunan permintaan pada tahun 2006 akibat gempa, usaha ini bangkit kembali dengan dukungan dari desainer ternama yang memperkenalkan tenun lurik ke kancah nasional. Kini, kain lurik mulai banyak digunakan dalam berbagai acara, dan desainer lokal mulai mengintegrasikannya ke dalam koleksi mereka.

Rian juga mengadaptasi cara penjualan dengan memanfaatkan platform online, terutama selama pandemi COVID-19, untuk meningkatkan aksesibilitas produk mereka. Melalui media sosial dan marketplace, Tenun Lurik Kurnia berhasil menjangkau lebih banyak pelanggan, baik lokal maupun internasional.

Kesimpulan

Tenun Lurik Kurnia bukan hanya sekadar usaha kain, tetapi juga representasi dari warisan budaya Yogyakarta yang terus dilestarikan. Melalui generasi yang berbeda, usaha ini menunjukkan bahwa meskipun tantangan terus ada, komitmen untuk mempertahankan tradisi dan inovasi tetap menjadi kunci keberlangsungan tenun lurik di tengah arus modernisasi.