UGM Kembangkan Pertanian Melon di Kawasan Pantai Gunung Kidul
GUNUNGKIDUL - Kawasan pantai di Gunungkidul, yang selama ini dikenal sebagai tujuan pariwisata, mulai menunjukkan potensi baru dalam pengembangan pertanian. Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) serta Masyarakat Mandiri (MM) UGM, telah melakukan uji coba penanaman melon jenis Gama Melon Basket (GMB) di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari selama empat bulan terakhir. Lokasi penanaman terletak di sekitar Pantai Porok, yang berjarak sekitar 3 km dari Pantai Kukup.
Karyo Suwito, salah satu petani dari Dusun Watu Belah, Desa Kemadang, mengungkapkan bahwa sejak bulan Juni, mereka telah melakukan dua kali panen melon. "Dari sisi harga cukup baik dan waktu panen juga cepat, sekitar dua bulan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa rata-rata hasil panen dari dua pohon melon mencapai 2 kwintal, yang kemudian dijual ke pengepul dengan harga sekitar Rp 5.000 per kilogram.
Pak Ranu, panggilan akrab Karyo, menyatakan bahwa menanam melon lebih cepat panen dibandingkan dengan tanaman lain seperti jagung yang membutuhkan waktu sekitar 3 bulan dan padi yang memerlukan sekitar 3,5 bulan. Meskipun hasilnya cukup menjanjikan, ia juga mengakui adanya beberapa kendala, antara lain serangan hama penyakit dan cara pengambilan air untuk penyiraman yang masih dilakukan secara manual.
Sementara itu, Suwarno, petani lainnya yang juga aktif di Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Kemadang, mengungkapkan bahwa keuntungan dari bertani melon cukup signifikan. Menurutnya, dari menanam 2.500 bibit melon di lahan seluas 1.000 m2, diperlukan modal sekitar Rp 7 juta. Dari panen tersebut, mereka bisa mendapatkan hasil sekitar 3 ton melon, yang jika dijual dengan harga rata-rata Rp 5.000 per kilogram, dapat menghasilkan keuntungan sekitar Rp 15 juta.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Gunungkidul, Supriyadi, menyambut baik inovasi penanaman Gama Melon Basket ini. Ia berharap bahwa jika pengembangan ini berhasil, lahan untuk pertanian melon dapat diperluas hingga 20 hektar. Menurutnya, pendampingan dari UGM sangat membantu, terutama karena fokus penyuluh pertanian di wilayah ini sebelumnya lebih banyak pada tanaman seperti padi, jagung, dan kedelai.
Prof. Dr. Ir. Bambang Hendro Sunarminto, S.U., Kepala Bidang Pertanian KP4 UGM, menyatakan kebanggaannya terhadap inovasi yang dihasilkan. Ia mengharapkan bahwa penelitian yang didanai melalui hibah I-MHERE ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meskipun tanaman melon ditanam di lahan yang sebagian besar berbentuk pasir.
Dr. Budi S. Daryono, M.Agr.Sc., pendamping petani sekaligus peneliti melon di UGM, menambahkan bahwa kawasan pantai selatan Gunung Kidul memiliki potensi serupa dengan pantai-pantai di Kulon Progo dan Bantul untuk penanaman melon. Ia menyarankan penggunaan teknik pemecah angin, mulsa, dan turus agar tanaman melon dapat tumbuh dengan baik. Namun, tantangan utama dalam pengembangan melon di wilayah ini adalah kesediaan air, sehingga kerja sama dengan ahli mikrohidro diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut.
Dr. Budi juga menekankan bahwa meskipun melon merupakan jenis hortikultura yang lebih sulit dikembangkan dibandingkan tanaman lain, prospeknya di daerah Yogyakarta cukup menjanjikan mengingat tingginya tingkat konsumsi melon. "Diharapkan jika pengembangan melon ini berhasil, masyarakat tidak hanya dapat menikmati wisata pantai, tetapi juga berbelanja melon dengan harga terjangkau," tandasnya.




